Loading...

Hukum Puasa Orang Yang Tidak Sholat

Loading...
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Allah ta’ala berfirman,
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
”Jika mereka bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) yaitu saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” [At Taubah: 11]
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكَ الصَّلاَةِ
“Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran yaitu meninggalkan sholat.” [HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhuma]
Dan sabda dia shallallahu’alaihi wa sallam,
الْعَهْدُ الَّذِى بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمُ الصَّلاَةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka yaitu sholat, maka barangsiapa yang meninggalkannya sungguh dia telah kafir.” [HR. At-Tirmidzi dari Buraidah bin Al-Hushaib radhiyallahu’anhu, Shahihut Targhib: 564]
Tabi’in yang mulia, Abdullah bin Syaqiq Al-‘Uqaili rahimahullah berkata,
كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم لاَ يَرَوْنَ شَيْئًا مِنَ الأَعْمَالِ تَرْكُهُ كُفْرٌ غَيْرَ الصَّلاَةِ
“Dahulu para sobat Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam tidaklah menganggap ada satu amalan yang apabila ditinggalkan merupakan kekafiran kecuali sholat.” [Riwayat At-Tirmidzi, Shahihut Targhib: 565]
Dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa meninggalkan sholat yaitu kekufuran yang menimbulkan pelakunya murtad keluar dari Islam, sedang amalan kekufuran membatalkan semua ibadah, tidak terkecuali puasa.
Allah ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Dan barangsiapa kafir dengan keimanan maka terhapuslah amalannya dan dia di darul abadi termasuk orang-orang yang merugi.” [Al-Maidah: 5]
Dan firman Allah ta’ala,
وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا وَهُمْ كُسَالَىٰ وَلَا يُنْفِقُونَ إِلَّا وَهُمْ كَارِهُونَ
“Dan tidak ada yang menghalangi untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan alasannya yaitu mereka kafir kepada Allâh dan Rasul-Nya dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” [At-Taubah: 54]
Dan firman Allah ta’ala,
وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
“Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, kemudian kami jadikan amal itu (bagaikan) abu yang berterbangan.” [Al-Furqon: 23]
Sebagaimana syirik besar yang juga merupakan kekafiran sanggup menghapuskan amalan. Allah ta’ala berfirman,
وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan kalau mereka menyekutukan Allah maka terhapuslah amalan yang dulu mereka kerjakan.” [Al-An’am: 88]
Dan firman Allah ta’ala,
لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ
“Jika kau mempersekutukan Allah, pasti terhapuslah amalmu dan tentulah kau termasuk orang-orang yang merugi.” [Az-Zumar: 65]
Maka orang yang berpuasa tapi tidak sholat tidak sah puasanya, alasannya yaitu meninggalkan sholat yaitu kekafiran yang menghapuskan seluruh amalan pelakunya (lihat Majmu’ Fatawa Asy-Syaikh Ibni Baz rahimahullah, 9/280-281, Majmu’ Fatawa wa Rosaail Asy-Syaikh Ibnil ‘Utsaimin rahimahullah, 19/87).
Bahkan tidak sah puasa orang yang hanya sholat di bulan Ramadhan dan meninggalkan sholat sehabis bulan Ramadhan, alasannya yaitu meninggalkan sholat yaitu kufur akbar yang menghapuskan amalan (lihat Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah lil Buhutsil ‘Ilmiyyah wal Ifta’, pertanyaan ke-3, no. 102, 10/140-141).
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
=====
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
العهد الذي بيننا وبينهم الصلاة فمن تركها فقد كفر
“Perjanjian antara kami dengan mereka yaitu shalat, siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Nasai 463, Turmudzi 2621, Ibn Majah 1079 dan yang lainnya, hadis shahih).
Kemudian, Imam Ibnu Utsaimin menegaskan bagaimana perilaku sobat terhadap orang yang meninggalkan shalat,
ولأن هذا قول عامة الصحابة إن لم يكن إجماعاً منهم، قال عبدالله بن شقيق رحمه الله وهو من التابعين المشهورين: “كان أصحاب النبي صلى الله عليه وسلم لا يرون شيئاً من الأعمال تركه كفر غير الصلاة”، وعلى هذا فإذا صام الإنسان وهو لا يصلي فصومه مردود غير مقبول، ولا نافع له عند الله يوم القيامة، ونحن نقول له: صل ثم صم، أما أن تصوم ولا تصلي فصومك مردود عليك لأن الكافر لا تقبل منه العبادة.
Kesimpulan ini (meninggalkan shalat yaitu kafir) merupakan pendapat umumnya sahabat, jikalau disebut kesepakatan diantara mereka. Abdullah bin Syaqiq rahimahullah – seorang tabiin yang populer – mengatakan,
“Para sobat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menilai ada satu amal yang jikalau ditinggalkan menimbulkan kafir, selain shalat.”
Oleh alasannya yaitu itu, jikalau ada orang yang puasa, namun dia tidak shalat maka puasanya tertolak dan tidak diterima, tidak ada manfaat untuknya di sisi Allah pada hari kiamat. Karena itu, kita nasehatkan kepada orang ini, ‘Kerjakan shalat dan laksanakan puasa. Jika anda puasa namun tidak shalat, puasa anda tertolak, alasannya yaitu ibadah orang kafir, tidak diterima.’
Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/15964
Allahu a’lam
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
Sumber http://www.referensidunia.blogspot.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hukum Puasa Orang Yang Tidak Sholat"

Posting Komentar