Loading...

Zakat Mal (Syarat Wajib Dan Ketentuan)

Loading...
Zakat Mal (bahasa Arab: الزكاة المال; transliterasi: zakah māl) yaitu zakat yang dikenakan atas harta yang dimiliki oleh individu dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan secara syarak.


Syarat seseorang wajib mengeluarkan zakat yaitu sebagai berikut:
  1. Islam
  2. Merdeka
  3. Berakal dan baligh
  4. Memiliki nishab
Syarat-syarat harta yang akan dikeluarkan sebagai zakat harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
  • Milik Penuh, yakni harta tersebut merupakan milik penuh individu yang akan mengeluarkan zakat.
  • Berkembang, yakni harta tersebut mempunyai potensi untuk berkembang bila diusahakan.
  • Mencapai nisab, yakni harta tersebut telah mencapai ukuran/jumlah tertentu sesuai dengan ketetapan, harta yang tidak mencapai nishab tidak wajib dizakatkan dan dianjurkan untuk beramal atau bersedekah.
  • Lebih Dari kebutuhan pokok, orang yang berzakat hendaklah kebutuhan minimal/pokok untuk hidupnya terpenuhi terlebih dahulu
  • Bebas dari Hutang, bila individu mempunyai hutang yang bila dikonversikan ke harta yang dizakatkan mengakibatkan tidak terpenuhinya nisab, dan akan dibayar pada waktu yang sama maka harta tersebut bebas dari kewajiban zakat.
  • Berlalu Satu Tahun (Haul), kepemilikan harta tersebut telah mencapai satu tahun khusus untuk ternak, harta simpanan dan harta perniagaan. Hasil pertanian, buah-buahan dan rikaz (barang temuan) tidak mempunyai syarat haul.
Yang berhak mendapatkan zakat berdasarkan firman Allah QS At-Taubah ayat 60, bahwa yang berhak mendapatkan zakat/mustahik sebagai berikut:

  1. Orang fakir: orang yang amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya.
  2. Orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam keadaan kekurangan.
  3. Amil : orang yang diberi kiprah untuk mengumpulkan dan membagikan zakat.
  4. Mualaf : orang kafir yang ada keinginan masuk Islam dan orang yang gres masuk Islam yang imannya masih lemah.
  5. Hamba sahaya : memerdekakan budak meliputi juga untuk melepaskan muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir.
  6. Orang berhutang: orang yang berutang sebab untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar utangnya itu dengan zakat, walaupun ia bisa membayarnya.
  7. Sabilillah: yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. Di antara mufasirin ada yang beropini bahwa fisabilillah itu meliputi juga kepentingan-kepentingan umum menyerupai mendirikan sekolah, rumah sakit, madrasah, masjid, pesantren, ekonomi umat, dll.
  8. Ibnu sabil, Orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya. Atau juga orang yg menuntut ilmu di daerah yang jauh yang kehabisan bekal.

Makna nishab di sini yaitu ukuran atau batas terendah yang telah ditetapkan oleh syar’i (agama) untuk menjadi pedoman memilih kewajiban mengeluarkan zakat bagi yang memilikinya, kalau telah hingga ukuran tersebut. Orang yang mempunyai harta dan telah mencapai nishab atau lebih, diwajibkan mengeluarkan zakat dengan dasar firman Allah,
“Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘Yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menunjukan ayat-ayat-Nya kepadamu biar kau berpikir.” (Qs. Al Baqarah: 219)
Makna al afwu (dalam ayat tersebut-red), yaitu harta yang telah melebihi kebutuhan. Oleh sebab itu, Islam memutuskan nishab sebagai ukuran kekayaan seseorang.
Syarat-syarat nishab yaitu sebagai berikut:

  1. Harta tersebut di luar kebutuhan yang harus dipenuhi seseorang, menyerupai makanan, pakaian, daerah tinggal, kendaraan, dan alat yang dipergunakan untuk mata pencaharian.
  2. Harta yang akan dizakati telah berjalan selama satu tahun (haul) terhitung dari hari kepemilikan nishab dengan dalil hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Tidak ada zakat atas harta, kecuali yang telah melampaui satu haul (satu tahun).” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh al AlBani)
Dikecualikan dari hal ini, yaitu zakat pertanian dan buah-buahan. Karena zakat pertanian dan buah-buahan diambil ketika panen. Demikian juga zakat harta karun (rikaz) yang diambil ketika menemukannya.
Misalnya, kalau seorang muslim mempunyai 35 ekor kambing, maka ia tidak diwajibkan zakat sebab nishab bagi kambing itu 40 ekor. Kemudian kalau kambing-kambing tersebut berkembang biak sehingga mencapai 40 ekor, maka kita mulai menghitung satu tahun sesudah tepat nishab tersebut.

Nishab, Ukuran dan Cara Mengeluarkan Zakatnya
1. Nishab emas
Nishab emas sebanyak 20 dinar. Dinar yang dimaksud yaitu dinar Islam.
1 dinar = 4,25 gr emas
Jadi, 20 dinar = 85gr emas murni.
Dalil nishab ini yaitu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Tidak ada kewajiban atas kau sesuatupun – yaitu dalam emas – hingga mempunyai 20 dinar. Jika telah mempunyai 20 dinar dan telah berlalu satu haul, maka terdapat padanya zakat ½ dinar. Selebihnya dihitung sesuai dengan hal itu, dan tidak ada zakat pada harta, kecuali sesudah satu haul.” (HR. Abu Daud, Tirmidzi)
Dari nishab tersebut, diambil 2,5% atau 1/40. Dan kalau lebih dari nishab dan belum hingga pada ukuran kelipatannya, maka diambil dan diikutkan dengan nishab awal. Demikian berdasarkan pendapat yang paling kuat.
Contoh:
Seseorang mempunyai 87 gr emas yang disimpan. Maka, kalau telah hingga haulnya, wajib atasnya untuk mengeluarkan zakatnya, yaitu 1/40 x 87gr = 2,175 gr atau uang seharga tersebut.
2. Nishab perak
Nishab perak yaitu 200 dirham. Setara dengan 595 gr, sebagaimana hitungan Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin dalam Syarhul Mumti’ 6/104 dan diambil darinya 2,5% dengan perhitungan sama dengan emas.
3. Nishab hewan ternak
Syarat wajib zakat hewan ternak sama dengan di atas, ditambah satu syarat lagi, yaitu binatanngya lebih sering digembalakan di padang rumput yang mubah daripada dicarikan makanan.
“Dan dalam zakat kambing yang digembalakan di luar, kalau hingga 40 ekor hingga 120 ekor…” (HR. Bukhari)
Sedangkan ukuran nishab dan yang dikeluarkan zakatnya yaitu sebagai berikut:
a. Onta
Nishab onta yaitu 5 ekor.
Dengan pertimbangan di negara kita tidak ada yang mempunyai ternak onta, maka nishab onta tidak kami jabarkan secara rinci -red.
b. Sapi
Nishab sapi yaitu 30 ekor. Apabila kurang dari 30 ekor, maka tidak ada zakatnya.
Cara perhitungannya yaitu sebagai berikut:

Jumlah Sapi Jumlah yang dikeluarkan
30-39 ekor 1 ekor tabi’ atau tabi’ah
40-59 ekor 1 ekor musinah
60 ekor 2 ekor tabi’ atau 2 ekor tabi’ah
70 ekor 1 ekor tabi dan 1 ekor musinnah
80 ekor 2 ekor musinnah
90 ekor 3 ekor tabi’
100 ekor 2 ekor tabi’ dan 1 ekor musinnah

Keterangan:
  1. Tabi’ dan tabi’ah yaitu sapi jantan dan betina yang berusia setahun.
  2. Musinnah yaitu sapi betina yang berusia 2 tahun.
  3. Setiap 30 ekor sapi, zakatnya yaitu 1 ekor tabi’ dan setiap 40 ekor sapi, zakatnya yaitu 1 ekor musinnah.
c. Kambing
Nishab kambing yaitu 40 ekor. Perhitungannya yaitu sebagai berikut:

Jumlah Kambing Jumlah yang dikeluarkan
40 ekor 1 ekor kambing
120 ekor 2 ekor kambing
201 – 300 ekor 3 ekor kambing
> 300 ekor setiap 100, 1 ekor kambing

4. Nishab hasil pertanian
Zakat hasil pertanian dan buah-buahan disyari’atkan dalam Islam dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang majemuk buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang majemuk itu) bila beliau berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik jadinya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kau berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Qs. Al-An’am: 141)
Adapun nishabnya ialah 5 wasaq, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Zakat itu tidak ada yang kurang dari 5 wasaq.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Satu wasaq setara dengan 60 sha’ (menurut akad ulama, silakan lihat klarifikasi Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 3/364). Sedangkan 1 sha’ setara dengan 2,175 kg atau 3 kg. Demikian berdasarkan takaaran Lajnah Daimah li Al Fatwa wa Al Buhuts Al Islamiyah (Komite Tetap Fatwa dan Penelitian Islam Saudi Arabia). Berdasarkan pedoman dan ketentuan resmi yang berlaku di Saudi Arabia, maka nishab zakat hasil pertanian yaitu 300 sha’ x 3 kg = 900 kg. Adapun ukuran yang dikeluarkan, bila pertanian itu didapatkan dengan cara pengairan (atau memakai alat penyiram tanaman), maka zakatnya sebanyak 1/20 (5%). Dan kalau pertanian itu diairi dengan hujan (tadah hujan), maka zakatnya sebanyak 1/10 (10%). Ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Pada yang disirami oleh sungai dan hujan, maka sepersepuluh (1/10); dan yang disirami dengan pengairan (irigasi), maka seperduapuluh (1/20).” (HR. Muslim 2/673)
Misalnya: Seorang petani berhasil menuai hasil panennya sebanyak 1000 kg. Maka ukuran zakat yang dikeluarkan bila dengan pengairan (alat siram tanaman) yaitu 1000 x 1/20 = 50 kg. Bila tadah hujan, sebanyak 1000 x 1/10 = 100 kg
5. Nishab barang dagangan
Pensyariatan zakat barang dagangan masih diperselisihkan para ulama. Menurut pendapat yang mewajibkan zakat perdagangan, nishab dan ukuran zakatnya sama dengan nishab dan ukuran zakat emas.
Adapun syarat-syarat mengeluarkan zakat perdagangan sama dengan syarat-syarat yang ada pada zakat yang lain, dan ditambah dengan 3 syarat lainnya:
1) Memilikinya dengan tidak dipaksa, menyerupai dengan membeli, mendapatkan hadiah, dan yang sejenisnya.
2) Memilikinya dengan niat untuk perdagangan.
3) Nilainya telah hingga nishab.
Seorang pedagang harus menghitung jumlah nilai barang dagangan dengan harga orisinil (beli), kemudian digabungkan dengan keuntungan higienis sesudah dipotong hutang.
Misalnya: Seorang pedagang menjumlah barang dagangannya pada simpulan tahun dengan jumlah total sebesar Rp. 200.000.000 dan keuntungan higienis sebesar Rp. 50.000.000. Sementara itu, ia mempunyai hutang sebanyak Rp. 100.000.000. Maka perhitungannya sebagai berikut:
Modal – Hutang:
Rp. 200.000.000 – Rp. 100.000.000 = Rp. 100.000.000
Kaprikornus jumlah harta zakat adalah:
Rp. 100.000.000 + Rp. 50.000.000 = Rp. 150.000.000
Zakat yang harus dibayarkan:
Rp. 150.000.000 x 2,5 % = Rp. 3.750.000
6. Nishab harta karun
Harta karun yang ditemukan, wajib dizakati secara pribadi tanpa mensyaratkan nishab dan haul, berdasarkan keumuman sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Dalam harta temuan terdapat seperlima (1/5) zakatnya.” (HR. Muttafaqun alaihi)

Cara Menghitung Nishab
Dalam menghitung nishab terjadi perbedaan pendapat. Yaitu pada masalah, apakah yang dilihat nishab selama setahun ataukah hanya dilihat pada awal dan simpulan tahun saja?
Imam Nawawi berkata, “Menurut mazhab kami (Syafi’i), mazhab Malik, Ahmad, dan jumhur, yaitu disyaratkan pada harta yang wajib dikeluarkan zakatnya – dan (dalam mengeluarkan zakatnya) berpedoman pada hitungan haul, seperti: emas, perak, dan hewan ternak- keberadaan nishab pada semua haul (selama setahun). Sehingga, kalau nishab tersebut berkurang pada satu ketika dari haul, maka terputuslah hitungan haul. Dan kalau tepat lagi sesudah itu, maka dimulai perhitungannya lagi, ketika tepat nishab tersebut.” (Dinukil dari Sayyid Sabiq dari ucapannya dalam Fiqh as-Sunnah 1/468). Inilah pendapat yang rajih (paling berpengaruh -ed) insya Allah. Misalnya nishab tercapai pada bulan Muharram 1423 H, kemudian bulan Rajab pada tahun itu ternyata hartanya berkurang dari nishabnya. Maka terhapuslah perhitungan nishabnya. Kemudian pada bulan Ramadhan (pada tahun itu juga) hartanya bertambah hingga mencapai nishab, maka dimulai lagi perhitungan pertama dari bulan Ramadhan tersebut. Demikian seterusnya hingga mencapai satu tahun sempurna, kemudian dikeluarkannya zakatnya. Demikian goresan pena singkat ini, mudah-mudahan bermanfaat.
***
Diringkas dari tulisan: Ustadz Kholid Syamhudi, Lc.
Dipublikasikan ulang oleh www.muslim.or.id
=====

Zakat mal atau zakat harta yaitu zakat yang Anda keluarkan kalau sudah mencapai batasannya (nishab). Zakat ini berbeda dengan zakat penghasilan yang diwajibkan kepada Anda setiap kali menerima penghasilan.

Agar tidak terjadi kebingungan, berikut perbedaannya:
  • Zakat penghasilan keluar setiap kali Anda mempunyai penghasilan. Misalnya setiap sebulan sekali, besarnya 2.5% dari total penghasilan. Nishabnya rata-rata yaitu kalau berpendapatan total Rp3 juta per bulan.
  • Zakat mal keluar kalau aset lancar Anda (tabungan, deposito, emas, reksadana, saham, ORI atau Sukuk termasuk nilai tunai asuransi) dan aset tetap yang tidak dipakai (contoh: rumah yang tidak ditempati dan tidak dipakai untuk bisnis apapun) totalnya mencapai 85 gram emas (harga ketika itu). Dan syarat kedua yaitu aset tersebut sudah 1 tahun Hijriyah. Besar zakatnya 2.5%.

Masih bingung? Nah, saya berikan pola ya.

Misalkan Anda berpenghasilan total Rp3 juta per bulan. Maka zakat penghasilan Anda setiap bulan yaitu 2.5% x Rp3 juta = Rp75 ribu

Pada Ramadhan 1431 H Anda menghitung aset sebagai berikut:
Tabungan = Rp10 juta
Deposito = Rp10 juta
Total = Rp20 juta
Pada ketika itu emas 85 gram setara dengan Rp40 juta.

Karena nishab zakat yaitu harta yang umurnya sudah satu tahun, maka zakat pada 1431H sanggup Anda bayarkan pada Ramadhan 1432H. Namun sebab nishab Anda belum terpenuhi (aset dibawah setara 85 gram emas) maka Anda tidak wajib zakat mal.

Lalu bulan Ramadhan tahun berikutnya, Anda menghitung kembali aset Anda dan ternyata jadinya sebagai berikut:
Tabungan = Rp30 juta
Deposito = Rp20 juta
Total = Rp50 juta
Emas 85 gram pada ketika ini (Juli 2014) yaitu sekitar 40-42 juta.
Cek harga emas standar pasar lokal dan dunia di http://harga-logam-mulia.com/

Maka, Anda wajib membayar zakat aal.
Kenapa? Karena aset yang Anda miliki sudah lebih dari setara 85 gram emas. Dan yang Anda bayarkan yaitu (2.5% x Rp50 juta = Rp1,25 juta).
Uang zakat tersebut sanggup Anda bayarkan pada Ramadhan 1433H.

Semoga klarifikasi di atas cukup jelas. Sumber


Sumber http://www.referensidunia.blogspot.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Zakat Mal (Syarat Wajib Dan Ketentuan)"

Posting Komentar