Loading...

Hukum Mengucapkan Selamat (Hari Raya Agama Selain Islam)

Loading...

Di bulan Desember ini mirip tahun-tahun sebelumnya dan sepanjang tahun, selalu muncul pertanyaan yang ditujukan kepada saya, ihwal boleh tidaknya mengucapkan 'Selamat Natal'. Jawaban saya cukup singkat: TIDAK!

Sebagian memperlihatkan alasan bahwa mereka masih terikat pada pekerjaan yang dalam posisi sulit mengelak untuk mengucap 'Selamat Natal' pada relasi, customer, bos, atau atasan. Sebagian yang lain beralasan lantaran untuk menjaga korelasi baik, kekerabatan, kekeluargaan dengan saudara, ipar, orang tua, mertua ataupun tetangga.


Bahkan ada yang berdalih, rekan kerja suaminya, tetangga atau kerabatnya yang beragama Kristen, selalu hadir ketika Idul Fitri, memperlihatkan selamat dan bahkan ikut meramaikan perayaan Idhul Fitri di rumah. Maka, 'tidak enak' rasanya kalau harus hirau taacuh kala mereka sedang merayakan Natal. Dan seringkali 'toleransi' dijadikan dalih untuk menempatkan Muslim pada posisi sulit sehingga terjebak untuk berpartisipasi dalam kegiatan Natal.

Dan balasan saya tetap tidak pernah berubah, cukup singkat, TIDAK BOLEH!. Apapun alasan, kita tidak boleh mengucapkan 'Selamat Natal' dalam apapun kondisinya.

Kali ini kita tidak membahas ihwal Natal dari sudut sejarah. Karena insyaAllah kita sudah mengetahui semua, bagaimana sejarah Natal dan efek budaya pagan Romawi yang kental mewarnai ritual 25 Desember ini. Namun kita akan membahas Natal dari sisi ibadah dan dampaknya pada aqidah.

Hakekat Natal

Natal ialah sebuah peringatan terhadap lahirnya Yesus (Isa as) sebagai Tuhan. Apakah benar Yesus dilahirkan pada 25 Desember? Tidak juga. Quran menginfor-masikan bahwa Isa as lahir ketika pohon kurma sedang berbuah lebat hingga buah-buahnya jatuh berguguran. Dan ini tidak mungkin terjadi pada bulan Desember.

Namun yang penting ditekankan disini bahwa Natal ialah peringatan terhadap hari lahirnya/hadirnya Yesus sebagai Tuhan. Yang perlu digarisbawahi ialah kalimat, 'Yesus sebagai Tuhan'. Sehingga, peringatan Natal ini sebetulnya ialah sebuah ibadah. Sebuah ibadah inti dalam agama Kristen. Karena tanpa peringatan 25 Desember (lahirnya Tuhan) maka eksistensi agama Nasrani pun tidak ada.

Natal ialah ibadah yang masuk dalam wilayah aqidah. Karena di sinilah mula eksistensi ketuhanan agama lain (Kristen). Natal ialah salah satu inti iman Kristen.

Idul Fitri

Berbeda dengan Natal. Idhul Fitri ialah sebuah perayaan Muslim sehabis melaksanakan puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan. Idul Fitri diisi dengan program silaturahim, maaf memaafkan antara keluarga, tetangga, kerabat bersahabat maupun jauh, kekerabatan di kantor, dsb. Perayaan ini memasuki wilayah hablu-minannas.

Konsistensi Menjaga Aqidah

Ketika seorang Nasrani tiba pada ketika Idul Fitri dan mengucapkan selamat Idul fitri atau materi ikutan mengucap 'mohon maaf lahir bathin', sebetulnya tidak ada pelanggaran aqidah/iman yang dilakukan oleh orang Nasrani tersebut terhadap agamanya. Mereka sangat menyadari hal ini. Kaprikornus jangan heran ketika mereka sangat antusias ikut serta dalam perayaan Idhul Fitri. Karena tidak ada pelanggaran apapun dalam iman mereka. Tapi justru ini menjadi pintu masuk untuk memperlihatkan bahwa mereka sangat toleran terhadap umat Islam dan secara tidak pribadi juga menuntut semoga umat Islampun toleran terhadap mereka dan semoga Muslim tidak menolak ketika mereka mengajak untuk berpartisipasi dalam Natal. Ini tidak fair!

Tapi coba perhatikan, adakah mereka mau mengucapkan selamat kita Muslim merayakan Idhul Adha (Idul Qurban)? Tentu tidak pernah dan mereka tidak akan mau. Karena ketika seorang Nasrani mengucapkan Idhul Adha kepada Muslim, maka ia sudah melanggar iman mereka. Mengapa demikian?

Idhul Adha

Bagi umat Islam, Idhul Adha ialah peringatan yang merefleksikan insiden keikhlasan dan loyalitas Nabi Ibrahim AS kepada Allah SWT dengan mengikhlaskan putranya Nabi Ismail AS untuk disembelih.

Namun dalam keimanan Kristen, putra tunggal Nabi Ibrahim AS ialah Ishak AS. Alkitab tidak mengakui Nabi Ismail sebagai putra nabi Ibrahim. Iman Nasrani sebagai mana yang tertulis dalam Alkitab menyatakan bahwa putra yang akan disembelih oleh Nabi Ibrahim ialah Ishak, bukan Ismail.

Kejadian 22:2
Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah beliau di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."
Bahkan lebih jauh, Nabi Ismail AS yang dihormati dalam Islam sebagaimana nabi-nabi yang lainnya, namun dalam Nasrani Nabi Ismail dikatakan sebagai seorang pria yang perilakunya mirip keledai liar.

Kejadian 16:11-12
Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: "Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak pria dan akan menamainya Ismael, alasannya TUHAN telah mendengar ihwal penindasan atasmu itu.

Seorang pria yang lakunya mirip keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di kawasan kediamannya ia akan menentang semua saudaranya."

Sehingga, kalau seorang Nasrani meng-ucapkan selamat Idhul Adha berarti ia telah mengingkari ayat-ayat dalam kitab suci mereka. Menodai keimanan mereka terhadap firman Tuhannya.

Jika ucapan Idhul Fitri tidak membawa dampak apa-apa bagi umat Kristen, tapi justru menguntungkan mereka. Namun ucapan Idhul Adha justru akan sangat membahayakan iman/aqidah mereka. Dan hingga ketika ini mereka sangat konsisten mempertahankan iman mereka.

Pertanyaannya, mengapa kita sebagai Muslim harus mempertaruhkan atau bahkan menggadaikan aqidah kita dengan mengucap 'Selamat Natal' atas dalih toleransi? Ini bukan toleransi, tapi pelecehan seksual aqidah. SUMBER
=====

Sekali lagi toleransi agama itu bukan mengikuti ritual agama lain, atau mencampurkan ritual kita dengan agama lain
Menjaga diri dari mencampuri, membiarkan penganut agama lain sesuai keyakinan mereka, itulah toleransi yang dicontohkan dalam islam
Bukan toleransi bila justru melanggar aturan agama sendiri, dengan alasan menghargai pemeluk agama lain, kebablasan namanya
Toleransi harus dikembalikan pada asanya, menghargai agama lain dari cara pandang agama kita, bukan malah ikut dan larut ke agama lain
Misalnya, sebentar lagi, saudara kita nasrani merayakan natalan, maka biarlah itu jadi hari raya mereka, bukan hari raya kita
Karenanya tidak perlu repot menggunakan atribut natal, mengucap selamat natal, lantaran itu hari raya mereka, biarkan dan hargai saja
Jangan hingga malah, lantaran dalih toleransi, aturan agama sendiri dilanggar, yang ada malah maksiat, atau malah mendukung kekufuran
Bergaul dan bermuamalah dengan siapapun insan boleh, islam sangat menghormati manusia, tapi dogma dan ibadah? Sendiri-sendiri
Kita tahu bahwa dogma itu dasar keyakinan, yang diatasnya agama dibangun, termasuk dogma nasrani ketika ini, meyakini yesus itu tuhan
Bagi nasrani, 25 desember ialah hari kelahiran 'tuhan yesus', itu dogma mereka, maka mengucapkan selamat natal itu serpihan akidah
"yang penting niatnya nggak gitu, hati saya masih yakin islam" | wilayah niat itu bukan urusan kita, makanya islam menata yang terlihat
"ini kan cuma ucapan, nggak hingga segitunya kali" | nah, bila hanya ucapan saja, mengapa dibela-belain?
Aturan islam itu disusun atas 4 hal, al-qur'an, as-sunnah, ijma sobat dan qiyas, aturan islam bukan lantaran katanya atau kayaknya
Bahkan ulama-ulama besar telah merangkum ihwal hal ini, bahwa haramnya terlibat dalam perayaan agama lain
Ibnu qayyim al-jauziyyah mengatakan, “sebagaimana mereka (kaum musyrik) tidak diperbolehkan menampakkan syiar-syiar mereka, maka tidak diperbolehkan pula bagi kaum muslim menyetujui dan membantu mereka melaksanakan syiar itu serta hadir bersama mereka. Demikian berdasarkan janji andal ilmu.” (ibnu qayyim al-jauziyyah, ahkâm ahl al-dzimmah, juz 1. Hal. 235).
Perayaan natal terperinci serpihan syiar mereka, maka mengucap selamat, beratribut natal, menghadiri acaranya, kesemuanya tidak dibolehkan
Abdul malik bin habib, salah seorang ulama malikiyyah menyatakan, “mereka tidak dibantu sedikit pun pada perayaan hari mereka. Sebab, tindakan merupakan penghormatan terhadap kemusyrikan mreka dan membantu kekufuran mereka. Dan seharusnya para penguasa melarang kaum muslim melaksanakan perbuatan tersebut. Ini ialah pendapat imam malik dan lainnya. Dan saya tidak mengetahui perselisihan ihwal hal itu” (ibnu taimiyyah, majmu’ al-fatâwâ, juz 6 hal 110).
Abu al-qasim al-thabari mengatakan, “tidak diperbolehkan bagi kaum muslim menghadiri hari raya mereka lantaran mereka berada dalam kemunkaran dan kedustaan (zawr). Apabila andal ma’ruf bercampur dengan andal munkar, tanpa mengingkari mereka, maka andal ma’ruf itu sebagaimana halnya orang yang meridhai dan terpengaruh dengan kemunkaran itu. Maka kita takut akan turunnya marah allah atas jama’ah mereka, yang mencakup secara umum. Kita berlindung kepada allah dari murka-nya ibnu qayyim al-jauziyyah, ahkâm ahl al-dzimmah, juz 1. Hal. 235).
Imam al-amidi dan qadli bubuk bakar al-khalal menyatakan,”kaum mmuslim dihentikan keluar untuk menyaksikan hari raya orang-orang kafir dan musyrik.” (ibnu tamiyyah, iqtidhâ’ al-shirâth al-mustaqîm, hal.201).
Jelas semua pendapat diatas bukan pendapat yang berdasar hawa nafsu, dan bagi kita yang mencari kebenaran, harusnya itu semua cukup
Juga terperinci sekali dalam semua pendapat itu, bahwa niat bukan jadi penilai, apapun niatannya, terlibat hari raya agama lain itu haram
Bila nasrani mengucap selamat lebaran, memang mereka tidak punya aturan yang mengaturnya, beda dengan kita yang sudah lengkap semuanya
Jangan hingga alasan toleransi, kita membahayakan dogma kita, jangan hingga dengan alasan toleransi, malah jatuh dalam keharaman
"rasulullah saw kalau mengiringi jenazah, tidak duduk hingga mayit dimasukan ke liang lahat. Seorang ulama yahudi mendekat dan berkata; 'beginilah yang kami lakukan wahai muhammad'." ubadah berkata; "lantas rasulullah saw duduk dan bersabda: 'selisihilah mereka!' (hr tirmidzi)
Dalam banyak hadits lain, kita mendapat bahwa rasulullah selalu menyelisihi yahudi dan nasrani, baik pakaian, ibadah, juga hari raya
Maka beratribut natal, mengucap selamat natal, itu termasuk penyerupaan yang nyata, seharusnya kaum muslim meninggalkannya
Renungkan, "siapa yang mirip suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka" (hr ahmad, bubuk dawud, thabrani)
Akhukum fillah,
felixsiauw
=====

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin & Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmu Dan Fatwa

Terjemah : Muhammad Iqbal A. Gazali
Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad

2011 - 1432


بسم الله الرحمن الرحيم

Mengucapkan Selamat Hari Natal

Pertanyaan 1: Apakah hukumnya mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir pada hari natal? Bagaimana menjawab mereka bila mereka yang mengucapkan selamat kepada kita? Bolehkah pergi ke kawasan resepsi perayaan hari natal? Apakah seseorang berdosa bila melaksanakan hal itu tanpa sengaja? Ia melakukannya sanggup lantaran menghormati atau malu, merasa tidak yummy atau lantaran alasannya lainnya? Apakah boleh mirip mereka dalam hal itu?

Jawaban 1: Mengucapkan selamat hari natal kepada orang-orang kafir dan hari keagamaan mereka yang lainnya ialah haram dengan ittifaaq para ulama, sebagaimana yang dikutip oleh Ibnul Qayyim dalam kitabya 'Ahkam Ahli Dzimmah',[1] di mana ia berkata:

'Adapun mengucapkan selamat dengan syi'ar-syi'ar kufur yang khusus dengannya ialah haram dengan ittifaaq (kesepakatan para ulama), mirip mengucapkan selamat terhadap hari besar dan puasa mereka, mirip ia berkata: 'ied penuh berkah atasmu, atau selamat hari raya dan semisalnya. Perbuatan ini, kalau pelakunya selamat dari kufur, maka ia termasuk yang diharamkan. Ia sama mirip mengucapkan selamat kepada mereka dengan sujudnya kepada salib. Bahkan hal itu lebih besar dosanya di sisi Allah Subhanahuwata’alla dan lebih berat kemurkaan –Nya pada ucapan selamat dari pada minum arak, membunuh orang lain, melaksanakan zinah dan semisalnya. Kebanyakan orang yang tidak punya dasar agama terjerumus dalam hal itu. Ia tidak tahu keburukan apa yang beliau lakukan. Siapa yang mengucapkan selamat kepada seorang hamba dengan maksiat atau bid'ah atau kufur maka ia menghadapi kemurkaan Allah Subhanahuwata’alla.'

Sesungguhnya mengucapkan selamat kepada orang-orang kafir dengan hari keagamaan mereka ialah haram dan mirip yang dikatakan Ibnul Qayim lantaran hal tersebut termasuk mengakui syi'ar kufur yang ada padanya, meridhai mereka, sekalipun ia tidak ridha dengan kufur ini untuk dirinya. Akan tetapi haram atas seorang muslim meridhai syi'ar kufur atau mengucapkan dengannya kepada orang-orang kafir, lantaran Allah Subhanahuwata’alla tidak ridha dengan hal itu, sebagaimana firman Allah Subhanahuwata’alla:
إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Jika kau kafir maka sebetulnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan kalau kau bersyukur, pasti Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; ... (QS. Az-Zumar:7)

Dan firman-Nya:

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالأزْلامِ ذَلِكُمْ فِسْقٌ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kau agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.. (QS. al-Maidah:3)

Mengucapkan kepada mereka dengan hal itu ialah haram, sama saja mereka gotong royong dalam pekerjaan itu atau tidak.

Apabila mereka mengucapkan selamat kepada kita dengan hari besar mereka, kita tidak boleh menjawab mereka atas hal itu, lantaran ia bukan hari besar kita dan ia ialah hari besar yang tidak diridhai oleh Allah Subhanahuwata’alla. Dan lantaran ia sanggup jadi merupakan bid'ah dalam agama mereka dan sanggup jadi disyari'atkan akan tetapi sudah dinasakh dengan agama Islam yang Allah Subhanahuwata’alla telah mengutus Nabi Muhammad Salallahu’laihi wassalam kepada semua makhluk, dan firman Allah Subhanahuwata’alla:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan beliau diakhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran:85)

Menghadiri permintaan mirip ini bagi seorang muslim ialah haram, lantaran ini lebih dari sekadar mengucap selamat kepada mereka lantaran dalam hal itu termasuk ikut serta bersama mereka dalam perayaan tersebut.

Demikian pula diharamkan bagi kaum muslimin mirip orang-orang kafir dengan mengadakan perayaan untuk hari natal ini, atau bertukar hadiah, atau membagi camilan anggun atau makanan, atau meliburkan pekerjaan dan semisal yang demikian itu, berdasarkan sabda Nabi Muhammad Salallahu’laihi wassalam:

قال رسول الله e : (مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ)

Rasulullah Salallahu’laihi wassala bersabda: "Barangsiapa yang mirip suatu kaum maka ia termasuk dari mereka."[2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya: 'Iqtidhaush shiratil Mustaqiim'[3]: 'Menyerupai mereka pada sebagian hari besar mereka mengakibatkan kebahagiaan di hati mereka dengan kebatilan yang ada pada mereka.... terkadang hal itu sanggup mendorong mereka dalam mengambil kesempatan dan merendahkan orang-orang yang lemah.' Sampai di sini penjelasannya.

Barangsiapa yang melaksanakan sesuatu salah satu dari hal tersebut diatas maka ia berdosa, sama saja ia melakukannya lantaran menghormati, atau senang, atau malu, atau lantaran alasannya lainnya, lantaran hal itu termasuk mudahanah dalam agama Allah Subhanahuwata’alla dan termasuk alasannya menguatkan jiwa orang-orang kafir dan pujian mereka dengan agama mereka.

Hanya kepada Allah Subhanahuwata’alla kita memohon semoga memuliakan kaum muslimin dengan agama mereka, memperlihatkan ketetapan atasnya, dan menolong mereka terhadap musuh-musuh mereka, sebetulnya Dia Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Syaikh Muhammad al-Utsaimin – Majmu' Fatawa wa Rasa`il 3/44.

Pertanyaan 2: Apakah hukumnya mengucapkan selamat kepada orang kristen pada hari besar mereka, lantaran saya memiliki paman yang memiliki tetangga yang beragama kristen yang beliau (paman) mengucapkan selamat kepadanya dalam kebahagiaan di hari besar. Dan beliau (tetangga) juga mengucapkan selamat kepada paman saya dalam kebahagiaan atau hari besar dan setiap ada kesempatan. Apakah hal ini boleh, muslim mengucapkan selamat kepada orang kristen dan orang kristen mengucapkan selamat kepada muslim pada hari besar dan kebahagiaan? Berilah pemikiran kepada saya semoga Allah Subhanahuwata’alla membalas kebaikan untukmu.

Jawaban 2: Tidak boleh bagi seorang muslim mengucapkan selamat kepada orang kristen dengan hari-hari besar mereka, lantaran hal itu termasuk tolong menolong terhadap perbuatan dosa dan kita dihentikan dalam hal itu. Firman Allah Subhanahuwata’alla:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلا الْهَدْيَ وَلا الْقَلائِدَ وَلا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلا تَعَاوَنُوا عَلَى الإثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan tolong-menolonglah kau dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kau kepada Allah, sebetulnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. al-Maidah:2)

Sebagaimana dalam hal itu ada sifat cinta kepada mereka, mengharapkan cinta mereka, dan menyatakan ridha (senang) terhadap mereka dan terhadap syi'ar agama mereka, dan ini hukumnya tidak boleh. Bahkan yang wajib ialah menampakkan permusuhan dan menyatakan kebencian kepada mereka, lantaran mereka menentang Allah Subhanahuwata’alla dan menyekutukan Dia dengan yang lain, serta menimbulkan bagi-Nya istri dan anak. Firman Allah Subhanahuwata’alla:

قال الله تعالى: ﴿ لاَّتَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخَرِ يُوَآدُّونَ مَنْ حَآدَّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا ءَابَآءَهُمْ أَوْ أَبْنَآءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ أُوْلاَئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ اْلإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ أُوْلاَئِكَ حِزْبُ اللهِ أَلآَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴾

Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau belum dewasa atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka.Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dengan donasi yang tiba daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam nirwana yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah Subhanahuwata’alla ridha terhadap mereka dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sebetulnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung. (QS. al-Mujadilah:22)

Dan firman Allah Subhanahuwata’alla:

قال الله تعالى: ﴿ قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَءَآؤُا مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَآءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللهِ وَحْدَهُ ...﴾

Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka:"Sesungguhnya kami berlepas diri dari kau dan dari apa yang kau sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah positif antara kami dan kau permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya hingga kau beriman kepada Allah saja.... (QS. Al-Mumtahinah:4)

Wa billahit taufiq, semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Fatawa Lajnah Daimah Untuk Riset Ilmu Dan Fatwa 3/213.

[1] Ahkam Ahli Dzimmah 1/441.
[2] HR. Abu Daud 4031 dari hadits Ibnu Umar t, ath-Thabrani dalam Ausath 8327 dari hadits Hudzaifah t. Ahmad meriwayatkan dengan komplemen padanya 2/50, 92 dari hadits Ibnu Umar t. Berkata dalam Faidhul Qadir 6/105 dari hadits Ibnu Umar t...'as-Sakhawi berkata: Sanadnya dha'if namun baginya ada beberapa penguat (syawaahid). Ibnu Taimiyah berkata: Sanadnya hasan. Ibnu Hajar berkata dalam Fath 10/271: Sanadnya hasan.
[3] Hal. 219

Sumber http://www.referensidunia.blogspot.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hukum Mengucapkan Selamat (Hari Raya Agama Selain Islam)"

Posting Komentar