Loading...

Hukum Menggunakan / Mengenakan Cincin Dalam Islam

Loading...
(Larangan bagi lelaki untuk menggunakan cincin di jari tengah dan telunjuk, cincin/jam tangan dari polesan emas, dan cincin dari besi)



Berikut ini beberapa permasalahan seputar aturan menggunakan cincin :

PERTAMA : Hukum menggunakan cincin.

Ibnu Umar radhiallahu 'anhu berkata :

اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ وَجَعَلَ فُصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ فَاتَّخَذَهُ النَّاسُ فَرَمَى بِهِ وَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ أَوْ فِضَّةٍ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menggunakan cincin dari emas, ia menjadikan mata cincinnya cuilan dalam ke arah telapak tangan, maka orang-orangpun menggunakan cincin. Lalu Nabi membuang cincin tersebut dan menggunakan cincin dari perak" (HR Al-Bukhari no 5865)
Ibnu Umar juga berkata :
اتخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما من ورق وكان في يده ثم كان بعد في يد أبي بكر ثم كان بعد في يد عمر ثم كان بعد في يد عثمان حتى وقع بعد في بئر أريس نقشه محمد رسول الله

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menggunakan cincin dari perak, cincin tersebut berada di tangan Nabi, kemudian sehabis itu berpindah ke tangan Abu Bakar, sehabis itu berpindah ke tangan Umar, sehabis itu berpindah ke tangan Utsman, hingga hasilnya cincin tersebut jatuh di sumur Ariis. Cincin tersebut terpahatkan Muhammad Rasulullah" (HR Al-Bukhari no 5873)

Anas bin Maalik radhiallahu 'anhu berkata :
لما أراد النبي صلى الله عليه وسلم أن يكتب إلى الروم قيل له إنهم لن يقرءوا كتابك إذا لم يكن مختوما فاتخذ خاتما من فضة ونقشه محمد رسول الله

"Tatkala Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hendak menulis surat kepada Romawi, maka dikatakan kepada ia : "Sesungguhnya mereka (kaum Romawi) tidak akan membaca tulisanmu kalau tidak distempel". Maka Nabipun menggunakan cincin dari perak yang terpahat "Muhammad Rasulullah" (HR Al-Bukhari no 5875)

Para ulama telah berselisih pendapat, apakah menggunakan cincin hukumnya sunnah ataukah hanya sekedar mubah (diperbolehkan)?. Sebagian ulama beropini bahwa menggunakan cincin hukumnya sunnah secara mutlak. Sebagian lagi beropini hukumnya sunnah bagi para raja dan sultan yang membutuhkan stempel cincin sebagaimana kondisi Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam, adapun selain para raja dan sultan maka hukumnya hanyalah mubah, lantaran Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah menggunakan cincin tersebut untuk berhias, akan tetapi lantaran ada keperluan. Dan sebagian ulama lagi memandang hukumnya makruh bagi selain raja dan sulton, terlebih lagi kalau diniatkan untuk berhias.

Ibnu Abdil Barr (wafat 463 H) berkata :

"Yang merupakan pendapat lebih banyak didominasi ulama dari kalangan ulama terdahulu dan yang kini yaitu bolehnya menggunakan cincin perak bagi sultan dan juga yang selainnya. Dan tatkala Imam Malik mengetahui sebagian orang memandang makruh hal ini maka beliaupun menyebutkan dalam kitab Muwattho' beliau…dari Sodaqoh bin Yasaar ia berkata, "Aku bertanya kepada Sa'id ibn Al-Musayyib wacana menggunakan cincin, maka ia berkata : Pakailah dan kabarkan kepada orang-orang sebetulnya saya telah berfatwa kepadamu akan hal ini"…

Tatkala hingga kepada Imam Ahmad wacana hal ini (yaitu sebetulnya menggunakan cincin bagi selain sultan hukumnya makruh, maka Imam Ahmad pun terheran" (At-Tamhiid 17/101)

Pendapat yang hati lebih condong kepadanya yaitu sunnahnya menggunakan cincin secara mutlak. Dalilnya yaitu meskipun lantaran Nabi menggunakan cincin yaitu lantaran untuk menstempeli surat-surat yang akan ia kirim kepada para pemimpin Romawi, Persia, dan lain-lain, akan tetapi dzohir dari hadits Ibnu Umar di atas sebetulnya para sahabat juga ikut menggunakan cincin lantaran mengikuti Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Padahal para sahabat bukanlah para sulton, dan mereka tidak membutuhkan cincin untuk stempel. Wallahu a'lam bis showab.

KEDUA : Ditangan yang mana dan jari yang mana menggunakan cincin?

Sebagian ulama beropini akan disunnahkan menggunakan cincin di tangan kiri, dan sebagian yang lain beropini di tangan kanan. Dan pendapat yang lebih berpengaruh yaitu pendapat yang menyatakan dibolehkan di kanan atau di kiri.

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, "Semua hadits-hadits tersebut (yang menyebutkan Nabi menggunakan cincin di tangan kiri dan juga hadits-hadits yang menyebutkan Nabi menggunakan cincin di tangan kanan-pen) sanadnya shahih" (Zaadul Ma'aad 1/139).

Syaikh Al-'Utsaimin berkata, "Yang benar yaitu sunnah menggunakan cincin di ajudan dan juga di tangan kiri" (Asy-Syarh Al-Mumti' 6/110).

Diantara hadits-hadits tersebut yaitu :

Anas bin Malik berkata :

كَانَ خَاتَمُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي هَذِهِ وَأَشَارَ إِلىَ الْخِنْصِرِ مِنْ يَدِهِ الْيُسْرَى

"Cincin Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam di sini –Anas mengisyaratkan ke jari kelingking dari tangan kirinya" (HR Muslim no 2095)

Anas juga berkata :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَبِسَ خَاتَمَ فِضَّةٍ فِي يَمِينِهِ فِيهِ فَصٌّ حَبَشِيٌّ كَانَ يَجْعَلُ فَصَّهُ مِمَّا يَلِي كَفَّهُ

"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menggunakan cincin perak di ajudan beliau, ada mata cincinnya terbuat dari kerikil habasyah (Etiopia), ia menjadikan mata cincinnya di cuilan telapak tangannya" (HR Muslim no 2094)

(lihat pembahasan wacana permasalahan ini di http://islamqa.info/ar/ref/139540)

Hadits Anas di atas juga menunjukkan bahwa disunnahkan untuk menggunakan cincin pada jari kelingking.

KETIGA : Bolehkah menggunakan cincin di jari tengah dan telunjuk?

Telah kemudian sebetulnya sunnah bagi lelaki untuk menggunakan cincin pada jari kelingking, demikian pula ia dibolehkan menggunakan cincin pada jari manis, lantaran tidak ada dalil yang melarangnya. Adapun menggunakan cincin pada jari telunjuk dan jari tengah maka ada larangan yang datang. Ali bin Abi Tholib radiallahu 'anhu berkata :

نَهَانِي رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَنْ أَتَخَتَّمَ فِي أُصْبُعَيَّ هَذِهِ أَوْ هَذِهِ قَال : فأومأ إلى الوسطى والتي تليها

"Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melarangku untuk menggunakan cincin di kedua jariku ini atau ini". Ali mengisyaratkan kepada jari tengah dan yang selanjutnya (yaitu jari telunjuk)." (HR Muslim no 2078)

Para ulama berselisih pendapat wacana larangan pada hadits ini apakah larangan tahrim (haram) ataukah hanyalah larangan makruh??. Para ulama juga setuju bahwa larangan ini hanya berlaku bagi kaum lelaki, adapun para perempuan bebas untuk menggunakan cincin di jari mana saja, lantaran para perempuan dibolehkan untuk berhias.

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

وأجمع المسلمون على أن السنة جعل خاتم الرجل فى الخنصر وأما المرأة فانها تتخذ خواتيم فى أصابع قالوا والحكمة فى كونه فى الخنصر أنه أبعد من الامتهان فيما يتعاطى باليد لكونه طرفا ولأنه لايشغل اليد عما تتناوله من أشغالها بخلاف غير الخنصر ويكره للرجل جعله فى الوسطى والتى تليها لهذا الحديث وهى كراهة تنزيه وأما التختم فى اليد اليمنى أو اليسرى فقد جاء فيه هذان الحديثان وهما صحيحان

"Kaum muslimin telah berijmak akan sunnahnya lelaki menggunakan cincin di jari kelingking, adapun perempuan maka boleh menggunakan cincin-cincin di jari-jari mereka. Mereka berkata hikmahnya menggunakan cincin di jari kelingking lantaran lebih jauh dari pengotoran cincin lantaran penggunaan tangan, lantaran jari kelingking letaknya di ujung, dan juga jari kelingking tidak mengganggu kegiatan tangan. Hal ini berbeda dengan jari-jari yang lainnya.

Dan dimakruhkan bagi seorang lelaki untuk menggunakan cincin di jari tengah dan juga jari yang setelahnya (jari telunjuk), dan hukumnya yaitu makruh tanzih. Adapun menggunakan cincin di ajudan atau tangan kiri maka telah tiba dua hadits ini, dan keduanya shahih" (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/71)

KEEMPAT : Diharamkan bagi lelaki menggunakan segala bentuk suplemen yang terbuat dari emas

Telah terperinci dalam hadist Ibnu Umar di atas sebetulnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam membuang cincin emasnya, lantaran cincin emas haram digunakan oleh lelaki. Bahkan bukan hanya cincin, segala suplemen yang terbuat dari emas dihentikan digunakan oleh lelaki.

عن عَلِي بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أنَّ النَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ حَرِيرًا فَجَعَلَهُ فِي يَمِينِهِ ، وَأَخَذَ ذَهَبًا فَجَعَلَهُ فِي شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ : ( إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي)

"Dari Ali bin Abi Tholib radhiallahu 'anhu, sebetulnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil kain sutra kemudian meletakkannya di ajudan beliau, dan mengambil emas kemudian ia letakan di tangan kiri beliau, kemudian ia berkata : "Kedua masalah ini haram bagi kaum lelaki dari umatku" (HR Abu Dawud no 4057, An-Nasaai no 5144, dan Ibnu Maajah no 3595, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Bahkan para ulama menyebutkan bahwa cincin yang ada polesan emasnya pun tidak boleh digunakan oleh lelaki.

An-Nawawi rahimahullah berkata :

وأما خاتم الذهب فهو حرام على الرجل بالاجماع وكذا لو كان بعضه ذهبا وبعضه فضة حتى قال أصحابنا لو كانت سن الخاتم ذهبا أو كان مموها بذهب يسير فهو حرام لعموم الحديث ... ان هذين حرام على ذكور أمتى حل لإناثها

"Adapun cincin emas maka hukumnya haram bagi lelaki berdasarkan kesepakatan (ijmak para ulama), demikian pula kalau sebagian cincin tersebut emas dan sebagiannya perak. Bahkan para ashaab (para ulama syafi'iyah) berkata kalau seandainya mata cincinnya terbuat dari emas atau dipoles dengan sedikit emas maka hukumnya juga haram, berdasarkan keumuman hadits…."Sesungguhnya kedua masalah ini (kain sutra dan emas) haram bagi kaum lelaki dari umatku dan halal bagi kaum wanitanya" (Al-Minhaaj Syarh Shahih Muslim 14/32)

Karenanya para ulama memfatwakan bahwa jam tangan yang terdapat padanya emas maka tidak boleh digunakan oleh lelaki.

Syaikh Al-Utsaimin rahimahullah berkata :

الساعة المطلية بالذهب للنساء لا بأس بها، وأما للرجال فحرام

"Jam yang dipoles dengan emas boleh bagi wanita, adapun bagi para lelaki maka haram" (Majmuu' Al-Fataawa Syaikh Utsaimin 11/62)

(Lihat juga Fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah di http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=3&PageID=9372&back=true)

KELIMA : Bolehkah menggunakan cincin dari besi dan tembaga?

Dalam hadits Abdullah bin 'Amr bin al-'Aash bahwasanya

رَأَى عَلَى بَعْضِ أَصْحَابِهِ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَأَعْرَضَ عَنْهُ فَأَلْقَاهُ وَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ حَدِيدٍ فَقَالَ هَذَا شَرٌّ هَذَا حِلْيَةُ أَهْلِ النَّارِ فَأَلْقَاهُ فَاتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ فَسَكَتَ عَنْهُ

"Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat salah seorang sahabat menggunakan cincin dari emas, maka Nabipun berpaling darinya, kemudian sahabat tersebut pun membuang cincin tersebut, kemudian menggunakan cincin dari besi. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, "Ini lebih buruk, ini yaitu suplemen penduduk neraka". Maka sahabat tersebut pun membuang cincin besi dan menggunakan cincin perak. Dan Nabi mendiamkannya" (HR Ahmad 6518, Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrod no 1021, dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dan para pentahqiq Musnad Ahmad)

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa cincin besi merupakan suplemen penduduk neraka, ini merupakan 'illah (sebab) pengharaman penggunaan cincin besi. Dan kita ketahui sebetulnya para penghuni neraka diikat dengan rantai dan belenggu, dan yang kita ketahui biasanya rantai dan belenggu terbuat dari besi (lihat 'Aunul Ma'buud 11/190). Allah juga berfirman :

وَلَهُمْ مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍ

"Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari besi" (QS Al-Haaj : 21)

Dan dari sini juga sanggup kita pahami sebetulnya larangan menggunakan cincin besi meliputi laki-laki dan perempuan, lantaran keduanya dituntut untuk tidak mirip penduduk neraka.

Dari sini juga kita pahami sebetulnya kalau cincin tersebut tidak terbuat dari besi murni maka tidaklah mengapa (lihat Fathul Baari 10/323).

Sebagian ulama juga mengharamkan cincin yang terbuat dari tembaga lantaran tembaga juga merupakan suplemen penduduk neraka. Allah berfirman :

فَالَّذِينَ كَفَرُوا قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ

"Maka orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api neraka" (QS Al-Haaj : 19)

Sa'id bin Jubair menafsirkan pakaian dari api tersebut dengan نُحَاس"tembaga yang dipanaskan" (Lihat Tafsir At-Thobari 18/591 dan Tafsir Ibnu Katsir 5/406)

Demikian juga firman Allah

سَرَابِيلُهُمْ مِنْ قَطِرَانٍ وَتَغْشَى

"Pakaian mereka yaitu dari qothiroon" (QS Ibrahim : 50)

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhumaa menafsirkan qothiroon dengan nuhaas "tembaga yang panas" (lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/522 dan Ad-Dur Al-Mantsuur 8/581)

Catatan : Adapun kisah seorang sahabat yang hendak menikahi seorang perempuan lantas ia tidak mempunyai harta yang sanggup dijadikan mahar, kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadanya : اِلْتَمِسْ وَلَوْ خَاتَمًا مِنْ حَدِيْدٍ "Carilah (untuk bayar mahar-pen) meskipun sebuah cincin dari besi" (HR Al-Bukhari no 5135), maka kisah ini tidak sanggup ditentangkan dengan hadits di atas, lantaran beberapa sisi :

- Hadits wacana mahar ini bukanlah nash yang tegas akan bolehnya menggunakan cincin besi, lantaran sanggup jadi yang dimaksud oleh Nabi yaitu biar sang perempuan memanfaatkan harga cincin besi tersebut (lihat Fathul Baari 10/323)

- Dan kalau kita menempuh metode tarjiih maka kita mendahulukan hadits larangan menggunakan cincin besi lantaran adanya kaidah bahwa "Larangan didahulukan dari pada pembolehan", lantaran aturan bolehnya menggunakan cincin besi bersandar kepada aturan asal yaitu bolehnya. Dan aturan haramnya pengharaman cincin besi yaitu hukumnya yang menunjukkan adanya perubahan, maka dalam tarjiih, perubahan aturan didahulukan daripada aturan asal.

KESIMPULAN :
  • Memakai cincin hukumnya sunnah (minimal hukumnya mubah dan tidak makruh)
  • Para lelaki tidak boleh menggunakan cincin dari emas atau yang ada adonan emasnya atau polesan emas, dan boleh menggunakan cincin dari perak dan juga batu-batu mulia dan permata. (Lihat fatwa Al-Lajnah Ad-Daaimah di http://www.alifta.net/Fatawa/FatawaChapters.aspx?View=Page&BookID=3&PageID=9376)
  • Bagi perempuan boleh menggunakan cincin dari emas dan perak di jari mana saja, lantaran para perempuan dituntut untuk berhias
  • Tidak boleh menggunakan cincin dari besi baik lelaki maupun wanita, lantaran itu merupakan suplemen penduduk neraka.
  • Disunnahkan bagi lelaki menggunakan cincin di jari kelingking baik di ajudan atau di tangan kiri.
  • Dibolehkan juga bagi lelaki untuk menggunakan cincin di jari manis, lantaran tidak ada dalil yang melarangnya. Hanya diharamkan (atau dimakruhkan berdasarkan sebagian ulama) kalau menggunakan cincin di jari telunjuk dan jari tengah.

Masih banyak hukum-hukum dan perkara-perkara yang berkaitan dengan cincin, silahkan baca di (http://www.saaid.net/Doat/yahia/59.htm)
=====


Hukum Memakai Cincin Kawin/Cincin Pertunangan

Apa hukumnya menggunakan cincin kawin atau cincin pertunangan?
(Banjarmasin)
Alhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah.
Telah diajukan pertanyaan seputar duduk masalah ini kepada Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah. Dan ia berfatwa:
“Cincin tunangan yaitu ungkapan dari sebuah cincin (yang tidak bermata). Pada asalnya, mengenakan cincin bukanlah sesuatu yang terlarang kecuali kalau disertai i’tiqad (keyakinan) tertentu sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Seseorang menulis namanya pada cincin yang dia berikan kepada tunangan wanitanya, dan si perempuan juga menulis namanya pada cincin yang dia berikan kepada si lelaki yang melamarnya, dengan anggapan bahwa hal ini akan mengakibatkan ikatan yang kokoh antara keduanya. Pada kondisi mirip ini, cincin tadi menjadi haram, lantaran merupakan perbuatan bergantung dengan sesuatu yang tidak ada landasannya secara syariat maupun inderawi (tidak ada korelasi lantaran akibat).1
Demikian pula, lelaki pelamar tidak boleh memakaikannya di tangan perempuan tunangannya lantaran perempuan tersebut gres sebatas tunangan dan belum menjadi istrinya sehabis lamaran tersebut. Maka perempuan itu tetaplah perempuan ajnabiyyah (bukan mahram) baginya, lantaran tidaklah resmi menjadi istri kecuali dengan kesepakatan nikah.” (sebagaimana dalam kitab Al-Usrah Al-Muslimah, hal. 113, dan Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, hal. 476)
Telah diajukan juga sebuah pertanyaan kepada Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah: “Apa aturan mengenakan cincin atau cincin tunangan apabila terbuat dari perak atau emas atau logam berharga yang lain?”
Beliau menjawab: “Seorang lelaki tidak boleh mengenakan emas baik berupa cincin atau suplemen yang lain dalam keadaan apapun. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharamkan emas atas kaum laki-laki umat ini. Dan ia melihat seorang lelaki yang mengenakan cincin emas di tangannya maka beliaupun melepas cincin tersebut dari tangannya. Kemudian ia berkata:
يَعْمِدُ أَحَدُكُمْ إِلَى جَمْرَةٍ مِنْ نَارٍ فَيَضُعَهَا فِي يَدِهِ؟
“Salah seorang kalian sengaja mengambil bara api dari neraka kemudian meletakkannya di tangannya?”
Maka, seorang lelaki muslim tidak boleh mengenakan cincin emas. Adapun cincin selain emas mirip cincin perak atau logam yang lain, maka boleh dikenakan oleh laki-laki, meskipun logam tersebut sangat berharga. Mengenakan cincin tunangan bukanlah adab kaum muslimin (melainkan adab orang-orang kafir). Apabila cincin itu digunakan disertai dengan i’tiqad (keyakinan) akan mengakibatkan terwujudnya rasa cinta antara pasangan suami istri dan kalau ditanggalkan akan memengaruhi langgengnya korelasi keduanya, maka yang mirip ini termasuk syirik.2 Dan ini merupakan keyakinan jahiliyah.
Maka, tidak boleh mengenakan cincin tunangan dengan alasan apapun, karena:
1. Merupakan perbuatan taqlid (membebek) terhadap orang-orang yang tidak ada kebaikan sedikitpun pada mereka (yakni orang-orang kafir), di mana hal ini yaitu adab kebiasaan yang tiba ke tengah-tengah kaum muslimin, bukan adab kebiasaan kaum muslimin.
2. Apabila diiringi dengan i’tiqad akan memengaruhi keharmonisan suami istri maka termasuk syirik.
Wala haula wala quwwata illa billah. (Fatawa Al-Mar`ah Al-Muslimah, hal. 476-477)
Kedua ulama ini setuju bahwa kalau cincin tunangan itu digunakan disertai i’tiqad yang disebutkan maka hukumnya haram dan merupakan syirik kecil. Adapun bila tanpa i’tiqad tersebut, keduanya berbeda pendapat. Dan pendapat Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan lebih akrab kepada al-haq dan lebih selamat. Wallahu a’lam bish-shawab.
1 Menjadikan masalah tertentu sebagai lantaran dalam perjuangan mencapai sesuatu, padahal syariat tidak memerintahkannya, dan tidak ada pula korelasi lantaran akhir antara masalah tersebut dengan tujuan yang akan dicapai (secara tinjauan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatur insiden alam), yaitu perbuatan syirik kecil; yang merupakan wasilah yang akan menyeret seseorang untuk terjatuh dalam perbuatan syirik besar yang membatalkan keislamannya. Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kesyirikan. (pen)
2 Yakni syirik kecil. (pen.)
Source: http://akhwat.web.id/muslimah-salafiyah/fiqh-ibadah/hukum-memakai-cincin-kawincincin-pertunangan/
=====

Apakah Memakai Cincin termasuk Sunah Nabi?

Tanya:
Apakah menggunakan cincin bagi laki-laki termasuk sunah Rasul? Mohon dijelaskan. Matur nuwun
Jawaban:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari & Muslim, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat hendak menulis surat untuk mendakwahkan islam kepada para raja di sekitar jazirah arab, ia menerima informasi bahwa mereka tidak mau mendapatkan surat, kecuali kalau ada stempelnya. Dengan pertimbangan ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciptakan cincin dari perak, dan diukir goresan pena Muhammad Rasulullah. Keterangan selengkapnya sanggup anda pelajari di: Cincin Nabi Muhammad
Memahami hal di atas, apakah berarti menggunakan cincin termasuk sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Pertanyaan ini pernah disampaikan kepada Imam Ibnu Utsaimin. Jawaban beliau,
التختم ليس بسنة مطلوبة بحيث يطلب من كل أن إنسان أن يتختم، ولكن إذا احتاج إليه، فإن الرسول صلى الله عليه وسلم لمَّا قيل له إن الملوك الذين يريد أن يكتب إليهم لا يقبلون كتاباً إلى مختوماً اتخذ الخاتم من أجل أن تختم به الكتب التي يرسلها إليهم
Memakai cincin bukanlah sunah yang ditekankan. Dalam arti, dianjurkan bagi setiap orang untuk menggunakan cincin. Akan tetapi sunah kalau dia membutuhkan. Karena Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mendengar informasi bahwa para raja yang hendak dikirimi surat, tidak mau mendapatkan surat kecuali yang ada stempelnya, maka ia menciptakan cincin biar sanggup digunakan untuk menstempel surat-surat yang ia kirim kepada mereka.
Kemudian Imam Ibnu Utsaimin melanjutkan,
فمن كان محتاجاً إلى ذلك كالأمير والقاضي ونحوهما كان اتخاذه اتباعاً لرسوله الله صلى الله عليه وسلم، ومن لم يكن محتاجاً إلى ذلك لم يكن لبسه في حقه سنة بل هو من الشيء المباح، فإن لم يكن في لبسه محذور فلا بأس به، وإن كان في لبسه محذور كان له حكم ذلك المحذور، وليعلم أنه لا يحل للذكور التختم بالذهب لأنه ثبت النهي عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم.
Oleh lantaran itu, siapa yang membutuhkan cincin, mirip pemerintah, hakim atau yang lainnya, maka menggunakan cincin dalam hal ini termasuk mengikuti sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun siapa yang tidak membutuhkan cincin, maka menggunakan cincin bagi dirinya bukan termasuk sunah, hanya sebatas mempunyai aturan mubah. Jika tidak ada unsur larangan saat menggunakan cincin, tidak jadi masalah. Akan tetapi kalau ada unsur terlarang saat menggunakan cincin(seperti menggunakan cincin emas bagi laki-laki, red), maka hukumnya sebagaimana keberadaan unsur terlarang itu. Dan perlu dipahami bahwa tidak halal bagi laki-laki untuk menggunakan cincin emas. Karena terdapat larangan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wacana cincin emas untuk laki-laki.
Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/9189.
Allahu a’lam
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)
=====


Cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam


Tanya:
Bagaimana ciri-ciri cincin Nabi SAW. Itu aja, trims
Jawaban,
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Berikut beberapa hadis yang menceritakan cicin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Pertama, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan,
كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من ورق وكان فصه حبشيا
Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terbuat dari perak, dan mata cincinnya berasal dari Habasyah (ethiopia). (HR. Muslim 2094, Turmudzi 1739, dan yang lainnya).
Kedua, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,
أن النبي صلى الله عليه وسلم اتخذ خاتما من فضة فكان يختم به
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan cincin dari perak, dan ia gunakan untuk menstempel suratnya. (HR. Ahmad 5366, Nasai 5292, dan sanadnya dinilai shahih oleh Syuaib al-Arnauth).
Ketiga, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan,
كان خاتم النبي صلى الله عليه وسلم من فضة فصه منه
”Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perak, dan mata cincin juga dari materi perak.” (HR. Bukhari 5870, Nasai 5198, dan yang lainnya).
Keempat, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan
كان نقش خاتم رسول الله صلى الله عليه وسلم ( محمد ) سطر و ( رسول ) سطر و ( الله ) سطر
Ukiran mata cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertuliskan: Muhammad [محمد] satu baris, Rasul [رسول] satu baris, dan Allah [الله] satu baris. (HR. Turmudzi 1747, Ibn Hibban 1414, dan semakna dengan itu diriwayatkan oleh Bukhari 5872)
Dalam riwayat lain dijelaskan,
أن النبي صلى الله عليه وسلم أراد أن كتب إلى كسرى وقيصر والنجاشي فقيل له : إنهم لا يقبلون كتابا إلا بخاتم فصاغ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما حلقته فضة ونقش فيه محمد رسول الله فكأني أنظر إلى بياضه في كفه
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak menulis surat ke Kisra (persi), Kaisar (romawi), dan Najasyi (Ethiopia). Kemudian ada yang mengatakan, ’Mereka tidak mau mendapatkan surat, kecuali kalau ada stempelnya.’ Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciptakan cincin dari perak, dan diukir goresan pena Muhammad Rasulullah. Saya melihat putihnya cincin itu di tangan beliau. (HR. Ahmad 12738, Bukhari 5872, Muslim 2092, dan yang lainnya).
Kelima, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia menceritakan,
اتخذ رسول الله صلى الله عليه وسلم خاتما من ورق فكان في يده ثم كان في يد أبي بكر ويد عمر ثم كان في يد عثمان حتى وقع في بئر أريس نقشه : محمد رسول الله
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciptakan cincin dari perak. Pertama ia yang memakai, kemudian digunakan Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian digunakan Utsman, hingga hasilnya kecemplung di sumur air Arisy. Ukirannya bertuliskan: Muhammad Rasulullah. (HR. Bukhari 5873, Muslim 2091, Nasai 5293, dan yang lainnya)
Keenam, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia menceritakan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّخَذَ خَاتَمًا مِنْ فِضَّةٍ، وَنَقَشَ فِيهِ: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، وَقَالَ: «إِنِّي اتَّخَذْتُ خَاتَمًا مِنْ وَرِقٍ، وَنَقَشْتُ فِيهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ، فَلاَ يَنْقُشَنَّ أَحَدٌ عَلَى نَقْشِهِ»
Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menciptakan cincin dari perak, dan diukir: Muhammad Rasulullah. Kemduian Beliau bersabda, “Sesungguhnya saya menciptakan cincin dari perak, dan saya ukir Muhammad Rasulullah. Karena itu, jangan ada seorangpun yang mengukir dengan goresan pena mirip ini.” (HR. Bukhari 5877)
Dari beberapa riwayat di atas, ada beberapa pelajaran yang sanggup kita simpulkan,
1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan cincin
2. Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai ciri:
    Larangan bagi lelaki untuk menggunakan cincin di jari tengah dan telunjuk Hukum Memakai / Mengenakan Cincin Dalam Islam
  • Terbuat dari perak
  • Ada mata cincinnya, yang juga terbuat dari perak
  • Logam perak mata cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berasal dari Ethiopia
  • Bagian mata cincin ada ukirannya, bertuliskan: Muhammad Rasulullah
  • Tulisan gesekan di mata cincin itu biasa digunakan untuk stempel surat
3. Tujuan utama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menciptakan cincin yaitu untuk dijadikan stempel surat dakwah yang hendak dikirim ke aneka macam penjuru dunia.
4. Cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam digunakan para khulafa’ ar-rasyidin sehabis ia sebagai stempel surat.
5. Larangan untuk menciptakan cincin dengan gesekan mirip gesekan cincin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Muhammad Rasulullah. al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan, ’Karena dalam cincin itu ada goresan pena nama beliau, dan status beliau. Beliau menciptakan demikian sebagai ciri khas beliau, yang membedakan dengan lainnya. Jika yang lain dibolehkan untuk menciptakan gesekan cincin mirip itu, maka tujuan ini tidak terwujud.’ (Fathul Bari, 10/324).
6. Makna ”mata cincinnya berasal dari Habasyah”
Para ulama berbeda pendapat wacana makna kalimat ini. Imam an-Nawawi menyebutkan beberapa pendapat ulama mengenai hal tersebut,
  • Mata cincinnya berupa kerikil dari Habasyah, berupa kerikil akik. Karena tambang kerikil akik ada di habasyah dan Yaman.
  • Warnanya mirip orang habasyah, yaitu berwarna hitam. Kata Ibn Abdil Bar, inilah pendapat yang lebih kuat. Berdasarkan riwayat dari Anas yang menegaskan bahwa mata cincin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perak. Artinya, bukan kerikil akik.
  • Kedua makna di atas benar. Dalam arti, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang menggunakan cincin yang matanya dari perak dan terkadang menggunakan cincin yang matanya kerikil akik. (Syarh Shahih Muslim, 14/71).
Al-Hafidz Ibn Hajjar juga menyebutkan beberapa kemungkinan yang lain,
  • Mata cincin ia berupa kerikil dari habasyah
  • Mata cincinnya dari perak. Disebut dari Habasyah, lantaran cirinya. Bisa jadi ciri modelnya atau ciri ukirannya.
(Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, 10/322)
Allahu a’lam
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

Sumber http://www.referensidunia.blogspot.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hukum Menggunakan / Mengenakan Cincin Dalam Islam"

Posting Komentar