Loading...

Larangan Ibarat Lawan Jenis Dalam Kajian Islam

Loading...
Laki-laki tidak diperbolehkan menggunakan pakaian wanita. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat lelaki yang berpakaian mirip model pakaian perempuan dan (melaknat) perempuan yang berpakaian mirip lelaki.” (HR. Abu Dawud no. 4098, Ahmad 2/325)
Hadits ini diriwayatkan Ibnu Majah (no. 1903) dengan lafadz, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat perempuan yang mirip lelaki dan (melaknat) lelaki yang mirip wanita.” Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat lelaki yang mirip perempuan dan (melaknat) perempuan yang mirip lelaki.” (HR. al-Bukhari no. 5885)
Al – Imam ath – Thabari t menjelaskan, “Makna (hadits) ini adalah kaum lelaki tidak diperbolehkan menyerupai perempuan dalam hal berpakaian dan berhias yang menjadi kekhususan wanita, begitu pula sebaliknya.” (al-Fath, 11/521)
Abu Muhammad ibnu Abi Jamrah rahimahullah menguraikan, “Zahir (teks) lafadz hadits ini yaitu kecaman keras terhadap tindakan tasyabuh (menyerupai) dalam segala hal. Namun, telah diketahui dari dalil-dalil lain bahwa yang dimaksud yaitu (larangan) tasyabuh dalam hal model pakaian, gaya, dan semisalnya; bukan tasyabuh dalam urusan kebaikan.” (al-Fath, 11/521) Dalam hal ini terbagi menjadi tiga.
1. Pakaian khusus kaum lelaki Seperti jubah laki laki, gamis laki laki, sarung laki laki, serban, peci/songkok, sirwal, dan semisalnya.
2. Pakaian khusus kaum wanita Seperti abaya, jubah wanita, gamis wanita, jilbab, khimar (kerudung), niqab (cadar), dan semisalnya.
Ketentuan yang membedakan antara pakaian lelaki dan perempuan dijelaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, “Yang membedakan antara pakaian lelaki dan pakaian perempuan kembali kepada apa yang khusus untuk kaum lelaki dan apa yang khusus untuk kaum wanita, yaitu sesuai dengan apa yang diperintahkan kepada kaum lelaki dan sesuai dengan apa yang diperintahkan kepada kaum perempuan yaitu perempuan diperintahkan berhijab dan tertutup, tidak boleh tabarruj dan menampakkan (aurat).”
Beliau juga menjelaskan, “Apabila diperselisihkan perihal pakaian lelaki dan pakaian wanita, jikalau pakaian tersebut lebih mendekati maksud (tujuan) hijab berarti pakaian wanita. Jika sebaliknya, berarti pakaian lelaki.” Beliau menguraikan pula, “Jika pada umumnya sebuah pakaian digunakan oleh kaum pria, perempuan dihentikan memakainya walaupun menutupi (satir), mirip pakaian ‘faraji’ (semacam syal) yang di sebagian negara biasanya digunakan oleh kaum laki-laki bukan wanita. Larangan dari pakaian mirip ini sanggup berubah dengan adanya perubahan budbahasa kebiasaan. Adapun apabila pembedanya kembali kepada dilema satir (yang menutupi), perempuan dianjurkan menggunakan pakaian yang lebih menutupi….” (al-Kawakib 93/132— 134, Ibnu ‘Urwah al-Hambali. Lihat Jilbab al-Mar’ah al-Muslimah hlm. 150—159, al-Albani)
3. Pakaian umum yang digunakan lelaki dan wanita.
Ketentuannya dijelaskan Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah, “Adapun bentuk pakaian berbeda-beda sesuai dengan budbahasa kebiasaan setiap negeri. Bisa jadi, ada suatu kaum yang bentuk pakaian kaum wanitanya tidak jauh berbeda dengan pakaian kaum lelakinya. Hanya saja, kaum perempuan (harus) dibedakan dengan hijab dan pakaian yang (lebih) tertutup.” (al-Fath, 11/521)
Oleh : Al-Ustadz Muhammad Afifuddin
=====

Larangan Laki-laki mirip Wanita.

Di antara yang terlarang yaitu menggunakan pakaian yang menjadi ciri khas wanita. Bahkan terlarang laki-laki mirip perempuan secara umum.
Sebagaimana kita saksikan sendiri sebagian publik figur sering mencontohkan bergaya mirip itu. Ada yang menggunakan rok dan menggunakan pakaian perempuan lainnya. Begitu pula yang nampak pada para banci/ bencong yang bergaya mirip wanita. Bergaya mirip ini terkena larangan sekaligus laknat sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits berikut ini.
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang mirip perempuan dan perempuan yang mirip laki-laki” (HR. Bukhari no. 5885).
Dalam lafazh Musnad Imam Ahmad disebutkan,
لَعَنَ اللَّهُ الْمُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ ، وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ
Allah melaknat laki-laki yang mirip wanita, begitu pula perempuan yang mirip laki-laki” (HR. Ahmad no. 3151, 5: 243. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari).
Begitu pula dalam hadits Abu Hurairah disebutkan,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَعَنَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لُبْسَةَ الْمَرْأَةِ وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لُبْسَةَ الرَّجُلِ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menggunakan pakaian wanita, begitu pula perempuan yang menggunakan pakaian laki-laki” (HR. Ahmad no. 8309, 14: 61. Sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim, perowinya tsiqoh termasuk perowi Bukhari Muslim selain Suhail bin Abi Sholih yang termasuk perowi Muslim saja). Dalam hadits terakhir ini yang dilaknat yaitu gaya pakaiannya. Sedangkan hadits di atas yaitu mode bergaya secara umum.
Namun manakah yang menjadi gaya dan pakaian wanita, di sini tergantung pada masing-masing daerah. Karena ada yang menjadi gaya perempuan di sebagian tempat, namun tidak menjadi dilema bahkan menjadi budaya berpakaian di tempat lainnya.
Semacam di Arab, para laki-laki mengenakan pakaian ‘tsaub’, jubah putih panjang hingga di mata kaki. Layaknya mirip menggunakan daster di tempat kita, bahkan ditambah lagi mereka menggunakan epilog kepala (qutroh) mirip kerudung. Namun itu memang pakaian laki-laki mereka. Sehingga budbahasa berpakaian perempuan ataukah bukan tergantung pada zaman dan tempat. Yang terperinci jikalau laki-laki menggunakan rok di tempat kita, sudah dianggap ia bergaya mirip perempuan sebagaimana yang kita lihat pada gaya para ‘banci’. Dan inilah yang terkena laknat. Sumber

Hanya Allah yang memberi taufik.
=====

(Arrahmah.com) – Zaman kita kini telah muncul sekelompok perempuan yang menyimpang dari fitrah Allah, padahal Allah telah membuat insan di atas fitrah itu. Mereka memperlihatkan sifat yang tidak sesuai dengan watak kewanitaan mereka, padahal Allah telah mengakibatkan watak tersebut untuk membedakan dengan watak laki-laki.
Mereka menyangka bahwa mereka sanggup berkembang menjadi laki-laki. Akibatnya sekelompok perempuan tersebut banyak menemui kesulitan dan kesempitan, mereka mengalami problem fisik dan psikis, menjadi wanita-wanita yang tersisihkan yang dibenci sekaligus menjadi pelampiasan kemarahan suami dan belum dewasa mereka.
Disamping itu ada bahaya yang amat keras lagi bagi para perempuan yang meyimpang dari fitrah dan kodrat kewanitaan mereka serta mirip laki-laki dalam hal berpakaian, penampilan, budbahasa dan tindakan. Dalam sebuah hadits shahih dari ibnu Abbas Radhiallaahu anhu dia berkata: ‘Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melaknat laki-laki yang mirip perempuan dan perempuan yang berpenampilan mirip laki-laki (HR. Al-Bukhari).
Laknat artinya terusir dan dijauhkan dari rahmat Allah Hadits lain yang juga diterima dan Ibnu Abbas ra dia berkata: ‘Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melaknat kaum laki-laki yang berpenampilan mirip perempuan dan perempuan yang berpenampilan laki-laki,’ (HR. Al-Bukhari) perempuan yang berpenampilan mirip laki-laki artinya yang meniru-niru laki-laki dalam berpakaian dan penampilan. Adapun menjiplak dalam hal ilmu dan fatwa maka hal itu terpuji.
Dari Salim Bin Abdullah dari bapaknya, dia berkata: ‘Telah bersabda Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam : ‘Ada tiga golongan insan yang tidak akan dipandang oleh Allah Azza Wajalla pada hari kiamat: Orang yang durhaka kepada orang tua, perempuan yang mirip laki-laki, dan Dayuts (orang yang tidak punya rasa cemburu Pent.)’ (HR. An-Nasai)

Beberapa bentuk penyerupaan perempuan terhadap laki-laki


Banyak sekali bentuk penyerupaan perempuan terhadap laki-laki. Masalah ini tidaklah terbatas hanya dalam hal pakaian saja tetapi meliputi lebih dari itu, diantara bentuk (penyerupaan) terhadap laki-laki yang sering dilakukan oleh para perempuan adalah:
  • Menyerupai laki-laki dalam hal berpakaian berupa menggunakan pakaian yang persis mirip pakaian laki-laki dan menggunakan celana panjang yang pada asalnya merupakan pakaian laki-laki dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Rasul Shallallaahu alaihi wa Sallam melaknat laki-laki yang menggunakan pakaian perempuan dan perempuan yang menggunakan pakaian laki-laki pernah ditanyakan kepada Aisyah Radhiallaahu anha bahwa ada seorang perempuan yang menggunakan sandal (model laki-laki-pent), maka berkatalah Aisyah: ‘Rasul Shallallaahu alaihi wa Sallam melaknat perempuan yang meniru-niru laki-laki.’ (HR. Abu Dawud).
  • Tidak berpegang teguh terhadap Hijab (pakaian perempuan muslimah) yang disyariatkan. Imam Adz-Dzahabi berkata: ‘Diantara perbuatan yang mengakibatkan terlaknatnya perempuan yaitu menampakkan perhiasan, emas dan berlian di balik cadar (hijab) dan menggunakan wangi-wangian saat keluar atau menggunakan pakaian yang mencolok (norak) … Semua itu termasuk tabarruj yang dimurkai Allah dan dimurkai pula orang yang melakukannya di dunia dan akhirat.’
  • Banyak keluar rumah tanpa ada keperluan baik bersama sopir pribadi, naik kendaraan umum atau menyetir sendiri mirip yang banyak terjadi dibeberapa negara atau berjalan kaki sekalipun jaraknya jauh.
  • Berdesak-desakan dengan laki-laki dan bercampur baur dengan mereka di pasar-pasar dan di tempat-tempat umum, bahkan sebagian mereka tidak merasa aib untuk mengantri di barisan laki-laki saat menunggu, masuk dan duduk diantara laki-laki khususnya di lapangan bisnis.
  • Meninggikan bunyi dalam berbicara dengan laki-laki dengan bunyi yang keras sehingga terdengar dari kejauhan. Padahal watak seorang perempuan biasanya berbicara rendah dan menghindari berbicara dengan laki-laki asing.
  • Meniru kebiasaan laki-laki dalam hal berjalan dan beraktifitas, berupa berjalan di pasar-pasar atau jalanan mirip berjalannya laki-laki dengan gagah mirip gerakan laki-laki yang menampakkan kegagahan dan kejantanan.
  • Kasar dalam bermuamalah dan berakhlak dengan keluarga dan kerabatnya, tidak lembut, galak, keras kepala dan tidak menghargai orang lain, sifat-sifat ini tercela bagi laki-laki maka bagaimana bagi wanita?
  • Tidak menggunakan pelengkap yang khusus bagi perempuan mirip pacar, celak mata, dan yang lainnya sehingga menjadi mirip laki-laki dalam bentuk dan penampilan. Aisyah Radhiallaahu anhu berkata: Ada seorang perempuan menyodorkan sebuah buku dengan tangannya dari balik hijab kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliaupun mengambilnya kemudian berkata: ‘Aku tidak tahu apakah ini tangan laki-laki ataukah tangah wanita?’ Aisyah menjawab: ‘Ta-ngan wanita.’ Beliau berkata lagi: ‘Kalau engkau perempuan maka engkau harus merubah kuku-kukumu,’ maksudnya dengan pacar.’ (HR. Abu Dawud)
  • Menyerupai laki-laki dalam berpenampilan berupa memotong rambut mirip potongan rambut laki-laki, memanjangkan kuku, posisi saat bangun atau duduk dan sebagainya.
  • Melepaskan diri dari pengawasan suami atau wali. Dia tidak mau mendapatkan kalau dirinya berada di bawah pengaturan suami atau wali dia menginginkan kebebasan bertindak secara mutlak tanpa izin atau pengawasan laki-laki yang memang bertanggung jawab atas dirinya.
  • Bepergian tanpa mahram dengan banyak sekali alat transportasi dan yang paling masyur yaitu pesawat terbang. Dia sendirilah yang membeli tiket, pergi ke bandara, dan bepergian tanpa mahram yang menyertainya dan melindunginya dari orang-orang fasik. Perbuatannya itu telah menyimpang dari diennya (agamanya) dan tabiatnya. Rasul Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda:’Janganlah seorang perempuan bepergian (safar) kecuali dengan mahramnya.’ (muttafaq ‘alaih)
  • Sedikitnya rasa malu, seorang perempuan tomboy telah tercabut rasa aib dari kepribadian dan akhlaknya, ia tak ubahnya mirip pohon bugil tak berkulit. Berbicara perihal segala hal, ngobrol dengan setiap orang pergi ke banyak sekali tempat tanpa rasa aib dan akhlak, sebagai mana sabda Rasul Shallallaahu alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang shahih: ‘Sesungguhnya diantara hal yang telah diketahui insan dari ucapan para nabi yang dulu adalah: Kalau kau tidak merasa aib maka bertindaklah semaumu.’
Inilah beberapa bentuk penyerupaan perempuan terhadap laki-laki yang keburukannya begitu kasatmata dikalangan para wanita, dan hal ini amat patut disesalkan. Dari klarifikasi di atas sanggup kita tarik kesimpulan yang menyeluruh perihal definisi perempuan tomboy yaitu: perempuan yang mirip laki-laki dalam hal berpakaian, penampilan, berjalan, berbicara, meninggikan suara, beraktifitas dan bercampur baur. Atau secara ringkasnya bahwa seorang perempuan dikatakan tomboy kalau dia menjiplak mirip laki-laki (padahal yang ia tiru yaitu merupakan ciri laki-laki yang bertentangan dengan kodrat kewanitaannya-pent).

Beberapa lantaran seorang perempuan menjadi tomboy

Ada beberapa penyebab yang mendorong seorang perempuan menjadi tomboy yang secara umum diantaranya yaitu sebagai berikut:
  • Kurangnya kepercayaan dan sedikitnya rasa takut kepada Allah, lantaran terjerumusnya seseorang kepada maksiat baik dosa kecil ataupun dosa besar merupakan akhir dari kurangnya kepercayaan dan lemahnya perasaan merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.
  • Pendidikan yang jelek, peribahasa menyampaikan bahwa seseorang yaitu anak bagi lingkungannya. Bila lingkungan tempat dia hidup merupakan lingkungan yang shaleh, maka diapun akan shaleh, kalau lingkungannya buruk maka diapun akan mirip itu. Seorang anak perempuan yang hidup dirumah yang semrawut yang kosong dari pendidikan yang baik pada umumnya akan menyeret dia kepada banyak sekali penyimpangan.
  • Pengaruh media masa dengan banyak sekali bentuk dan jenisnya, baik tontonan, yang di dengar, ataupun bacaan. Di dalamnya berkembang dan tersebar pemikiran-pemikiran sesat dan penyimpangan yang akan menyesatkan para perempuan dan mendorong mereka untuk melanggar norma agama dan prinsip-prinsip kebenaran.
  • Taklid buta, dia berpakaian dan berprilaku tanpa memahami dan mengetahui apa yang dia lakukan, juga tidak memikirkan manfaat dan madharaat-nya. Dia hanya sekedar ikut-ikutan kepada apa yang ada di sekitar dirinya, dari kawan-kawannnya dan dari para seniwati (artis atau bintang), sekalipun hal itu bertendengan watak kewanitaannya.
  • Kawan bergaul yang jelek, di antara hal yang tidak diragukan lagi yaitu mitra bergaul yang mempunyai efek besar dalam langsung seseorang baik positif ataupun negatif. Sebagaimana sabda nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam : ‘Perumpamaan mitra bergaul yang saleh dengan mitra bergaul yang buruk mirip orang yang menjual minyak wangi dengan peniup pande besi (kiir). Panjual minyak wangi mungkin dia akan memperlihatkan kepadamu atau kau membeli darinya, atau kau sanggup mencium harumnya. Adapun peniup pande besi mungkin dia sanggup memperabukan pakaianmu atau kau mencium busuk busuk darinya.’ (Muttafaq ‘alaih).
  • Kurang percaya diri dan upaya menarik perhatian, sebagian perempuan ada yang merasa kurang percaya diri dan berupaya menutup kekurangan itu dengan cara yang justeru menyeret mereka kepada keburukan yaitu mirip laki-laki dalam berperilaku, penampailan, pakaian dan sebagainya.
  • Contoh yang buruk, pola (figur) merupakan unsur pendidikan yang terpenting. Kadang-kadang seorang ibu berprilaku mirip laki-laki kemudian di pola oleh anak perempuannya. Umumnya para anak perempuan mempunyai kepribadian lantaran mencontoh ibu-ibu mereka. Maka seorang ibu yang tidak menghargai dan tidak menghormati ayah, pada umumnya anak wanitanya pun bertabiat mirip itu yaitu tidak menghargai suami mereka. Dan seorang ibu yang berangasan nada bicaranya dan selalu keras dalam bersuara maka anak wanita-nya pun akan mewarisi sifat ini pula.
  • Tidak adanya rasa cemburu dari suami atau walinya, sehingga tidak mencegah dia dari penyimpangan dalam dilema hijab dan pakaian dan tidak melarangnya dari sikap yang tidak layak.
Demikian diantara sebab-sebab terpenting yang sanggup menjerumuskan perempuan ke dalam sikap menjiplak kaum laki-laki. Semoga Allah menjaga kita dari segala perbuatan yang menyelisihi syari’atNya serta membimbing kita semua semoga tetap diatas fitrah yang diridhaiNya. (Forum/arrahmah.com)
=====

Laki-laki yang sengaja mirip perempuan dalam berpakaian, berdandan, bertingkah laku, berbicara, bergaya dan sebagainya yaitu haram. Demikian pula perempuan yang mirip laki-laki, menurut hadits-hadits sebagai berikut :
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ: لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ ص اْلمُتَشَبّهِيْنَ مِنَ الرّجَالِ بِالنّسَاءِ وَ اْلمُتَشَبّهَاتِ مِنَ النّسَاءِ بِالرّجَالِ. البخارى 7: 55
Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata, “Rasulullah SAW mela’nat orang laki-laki yang mirip perempuan dan para perempuan yang mirip laki-laki”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 55]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيّ ص اَنَّهُ لَعَنَ اْلمُتَشَبّهَاتِ مِنَ النّسَاءِ بِالرّجَالِ، وَ اْلمُتَشَبّهِيْنَ مِنَ الرّجَالِ بِالنّسَاءِ. ابو داود 4: 60، رقم: 4097
Dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi SAW, bergotong-royong dia mela’nat perempuan yang mirip laki-laki dan laki-laki yang mirip wanita. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 60, no. 4097]
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَعَنَ النَّبِيُّ ص اْلمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرّجَالِ وَ اْلمُتَرَجّلاَتِ مِنَ النّسَاءِ. وَ قَالَ: اَخْرِجُوْهُمْ مِنْ بُيُوْتِكُمْ. البخارى 7: 55
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Rasulullah SAW mela’nat para laki-laki yang bergaya mirip perempuan dan para perempuan yang bergaya mirip laki-laki. Dan dia bersabda, “Keluarkanlah mereka dari rumah-rumah kalian”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 55]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ ص الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ اْلمَرْأَةِ، وَ اْلمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ. ابو داود 4: 60، رقم: 4098
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah SAW mela’nat orang laki-laki yang menggunakan pakaian wanita, dan perempuan yang menggunakan pakaian laki-laki”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 60, no. 4098].
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ اَنَّ امْرَأَةً مَرَّتْ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ص مُتَقَلّدَةً قَوْسًا، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: لَعَنَ اللهُ اْلمُتَشَبّهَاتِ مِنَ النّسَاءِ بِالرّجَالِ وَ اْلمُتَشَبّهِيْنَ مِنَ الرّجَالِ بِالنّسَاءِ. الطبرانى فى الاوسط 5: 14، رقم: 4015
Dari Ibnu ‘Abbas, bergotong-royong ada seorang wania berselempang busur panah lewat di depan Rasulullah SAW, maka Nabi SAW bersabda, “Allah mela’nat para perempuan yang mirip laki-laki dan para laki-laki yang mirip wanita”. [HR. Thabraniy dalam Al-Ausath, juz 5, hal. 14, no. 4015, hadits ini dla’if lantaran dalam sanadnya ada perawi berjulukan ‘Ali bin Sa’id Ar-Raaziy]
عَنْ رَجُلٍ مِنْ هُذَيْلٍ قَالَ: رَأَيْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ اْلعَاصِ، وَ مَنْزِلُهُ فِى اْلحِلّ، وَ مَسْجِدُهُ فِى اْلحَرَمِ قَالَ: فَبَيْنَا اَنَا عِنْدَهُ رَأَى اُمَّ سَعِيْدٍ اِبْنَةَ اَبِى جَهْلٍ مُتَقَلّدَةً قَوْسًا، وَ هِيَ تَمْشِى مِشْيَةَ الرَّجُلِ، فَقَالَ عَبْدُ اللهِ: مَنْ هذِهِ؟ قَالَ اْلهُذَلِيُّ فَقُلْتُ: هذِهِ اُمُّ سَعِيْدٍ بِنْتُ اَبِى جَهْلٍ، فَقَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِالرّجَالِ مِنَ النّسَاءِ، وَ لاَ مَنْ تَشَبَّهَ بِالنّسَاءِ مِنَ الرّجَالِ. احمد 2: 640، رقم: 6892
Dari seorang laki-laki suku Hudzail ia berkata : Saya pernah melihat Abdullah bin Amr bin ‘Ash RA, orang tersebut rumahnya di tanah halal sedang masjidnya di tanah haram. Orang tersebut berkata : Pada suatu saat saya sedang berada di sisinya, kemudian dia (Abdullah bin ‘Amr) melihat Ummu Sa’id binti Abu Jahal berselempang busur panah berjalan mirip berjalannya orang laki-laki, kemudian Abdullah (bin Amr) bertanya : “Siapa perempuan ini ?”. Orang dari Hudzail itu berkata : Lalu saya menjawab : “Ini Ummu Sa’id binti Abu Jahal”. Lalu ‘Abdullah bin ‘Amr berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Bukan dari golongan kita perempuan yang mirip laki-laki dan laki-laki yang mirip wanita”. [HR. Ahmad juz 2, hal. 640, no. 6892, dla’if lantaran dalam sanadnya ada perawi yang tidak disebutkan namanya]
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص اُتِيَ بِمُخَنَّثٍ قَدْ خَضَبَ يَدَيْهِ وَ رِجْلَيْهِ بِاْلحِنَّاءِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ص: مَا بَالُ هذَا؟ فَقِيْلَ، يَا رَسُوْلَ اللهِ، يَتَشَبَّهُ بِالنّسَاءِ، فَأُمِرَ فَنُفِيَ اِلَى النَّقِيْعِ فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اَلاَ نَقْتُلُهُ؟ فَقَالَ: اِنّى نُهِيْتُ عَنْ قَتْلِ اْلمُصَلّيْنَ. ابو داود 4: 282، 4928
Dari Abu Hurairah bergotong-royong dibawa kepada Nabi SAW seorang laki-laki yang berlagak mirip wanita, dia memberi warna dengan hinna’ (quitec) pada (kuku-kuku) kedua tangan dan kakinya. Maka Rasulullah SAW bertanya : “Kenapa orang ini ?” Ada sobat yang menjawab, “Ya Rasulullah, orang laki-laki itu berlagak mirip wanita”. Lalu diperintahkan (oleh Rasulullah) supaya orang tersebut diasingkan ke Naqi’ (suatu tempat di kawasan Muzainah, perjalanan dua malam dari Madinah), kemudian ditanyakan kepada beliau, “Ya Rasulullah, apakah tidak kita bunuh saja orang itu ?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya saya dihentikan membunuh orang-orang yang shalat”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 282, no. 4928]
Larangan perempuan menyambung rambut, mencukur alis, menjarangkan gigi, dan bertatto. Islam melarang para perempuan menyambung rambut, mencabut bulu dahi atau mencukur alis, mengikir giginya supaya jarang dan kelihatan cantik, dan perempuan yang mencacah (bertatto), berdasar hadits-hadits sebagai berikut :
عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ جَارِيَةً مِنَ اْلاَنْصَارِ تَزَوَّجَتْ وَ اَنَّهَا مَرِضَتْ فَتَمَعَّطَ شَعَرُهَا، فَاَرَادُوْا اَنْ يَصِلُوْهَا، فَسَأَلُوا النَّبِيَّ ص، فَقَالَ: لَعَنَ اللهُ اْلوَاصِلَةَ وَ اْلمُسْتَوْصِلَةَ. البخارى 7: 62
Dari ‘Aisyah RA, bergotong-royong ada seorang perempuan Anshar menikah, dan ia terjangkit penyakit sehingga rambutnya rontok. Lalu keluarganya ingin menyambung rambutnya, maka mereka bertanya kepada Nabi SAW, maka Nabi SAW bersabda : “Allah mela’nat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang minta disambung rambutnya”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 62]
عَنْ اَسْمَاءَ قَالَتْ: سَأَلَتِ امْرَأَةٌ النَّبِيَّ ص فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّ ابْنَتِى اَصَابَتْهَا اْلحَصْبَةُ فَامَّرَقَ شَعَرُهَا، وَ اِنّى زَوَّجْتُهَا، اَفَأَصِلُ فِيْهِ؟ فَقَالَ: لَعَنَ اللهُ اْلوَاصِلَةَ وَ اْلمَوْصُوْلَةَ. البخارى 7: 63
Dari Asma’, ia berkata : Ada seorang perempuan bertanya kepada Nabi SAW. Ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya anak perempuan saya terkena sakit panas sehingga rambutnya rontok, dan saya telah menikahkannya. Apakah boleh saya sambung rambutnya ?”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Allah mela’nat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang disambung rambutnya”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 63]
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض قَالَ: لَعَنَ النَّبِيُّ ص اْلوَاصِلَةَ وَ اْلمُسْتَوْصِلَةَ، وَ اْلوَاشِمَةَ وَ اْلمُسْتَوْشِمَةَ. البخارى 7: 63
Dari Ibnu Umar RA ia berkata, “Nabi SAW mela’nat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang minta disambung rambutnya, (dan mela’nat) perempuan yang mencacah (mentatto) dan perempuan yang minta dicacah (ditatto)”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 63].
عَنْ اَسْمَاءَ بِنْتِ اَبِى بَكْرٍ قَالَتْ: لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ ص اْلوَاصِلَةَ وَ اْلمُسْتَوْصِلَةَ. البخارى 7: 62
Dari Asma’ binti Abu Bakar, ia berkata, “Rasulullah SAW mela’nat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang minta disambung rambutnya”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 62].
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لُعِنَتِ اْلوَاصِلَةُ وَ اْلمُسْتَوْصِلَةُ وَ النَّامِصَةُ وَ اْلمُتَنَمّصَةُ وَ اْلوَاشِمَةُ وَ اْلمُسْتَوْشِمَةُ مِنْ غَيْرِ دَاءٍ. ابو داود 4: 78، رقم: 4170
Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Telah dila’nat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang minta disambung rambutnya, perempuan yang mencabut bulu dahi (atau ngerik alis) dan perempuan yang dicabut bulu dahinya (atau dikerik alisnya) dan perempuan yang mencacah (mentatto) dan perempuan yang minta dicacah (ditatto) bukan lantaran sakit”. [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 78, no. 4170].
عَنِ عَلْقَمَةَ قَالَ: لَعَنَ عَبْدُ اللهِ اْلوَاشِمَاتِ وَ اْلمُتَنَمّصَاتِ وَ اْلمُتَفَلّجَاتِ لِلْحُسْنِ اْلمُغَيّرَاتِ خَلْقَ اللهِ، فَقَالَتْ اُمُّ يَعْقُوْبَ: مَا هذَا؟ قَالَ عَبْدُ اللهِ: وَ مَا لِى لاَ اَلْعَنُ مَنْ لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ ص وَ فِى كِتَابِ اللهِ. قَالَتْ: وَ اللهِ لَقَدْ قَرَأْتُ مَا بَيْنَ لَوْحَيْنِ فَمَا وَجَدْتُهُ. قَالَ: وَ اللهِ، َلاِنْ قَرَأْتِيْهِ وَجَدْتِيْهِ: وَ مَا آتَاكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ، وَ مَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْا. البخارى 7: 63
Dari ‘Alqamah ia berkata : ‘Abdullah (bin Mas’ud) mela’nat wanita-wanita yang mencacah (mentatto) dan mela’nat wanita-wanita yang dicabut bulu dahinya (atau dikerik alisnya) dan wanita-wanita yang menjarangkan giginya supaya cantik, yaitu para perempuan yang mengubah ciptaan Allah”. Lalu Ummu Ya’qub berkata (kepada Ibnu Mas’ud) “Apa ini ?”. Maka ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, “Mengapa saya tidak boleh mela’nat kepada orang yang dila’nat oleh Rasulullah SAW sedangkan di dalam kitab Allah (sudah dijelaskan). Wanita itu berkata, “Demi Allah, sungguh saya telah baca semuanya, tetapi saya tidak mendapatinya”. ‘Abdullah (bin Mas’ud) berkata, “Demi Allah, kalau kau membacanya, niscaya kau mendapatinya”. (Allah Ta’ala berfirman yang artinya), “Apa yang didatangkan oleh Rasul kepada kalian, maka terimalah dia, dan apa yang dihentikan oleh Rasul kepada kalian, maka tinggalkanlah”. (Al-Hasyr : 7). [HR. Bukhari juz 7, hal. 63].
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: لَعَنَ رَسُوْلُ اللهِ ص اَلْوَاشِمَاتِ وَ اْلمُوْتَشِمَاتِ وَ اْلمُتَنَمّصَاتِ وَ اْلمُتَفَلّجَاتِ ِللْحُسْنِ اْلمُغَيّرَاتِ. النسائى 8: 146
Dari ‘Abdullah (bin Mas’ud), ia berkata : Rasulullah SAW mela’nat perempuan yang mentatto dan perempuan yang minta ditatto, perempuan yang mencabut bulu dahinya (mengerik alisnya) dan perempuan yang menjarangkan giginya supaya cantik, yaitu para perempuan yang merubah ciptaan Allah”. [HR. An-Nasaiy juz 8, hal. 146]
عَنْ سَعِيْدِ بْنِ اْلمُسَيَّبِ قَالَ: قَدِمَ مُعَاوِيَةُ اْلمَدِيْنَةَ فَخَطَبَنَا، وَ اَخْرَجَ كُبَّةً مِنْ شَعَرٍ، فَقَالَ: مَا كُنْتُ أُرَى اَنَّ اَحَدًا يَفْعَلُهُ اِلاَّ اْليَهُوْدَ. اِنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص بَلَغَهُ فَسَمَّاهُ الزُّوْرَ. مسلم 4: 1680
Dari Sa’id bin Musayyab, ia berkata, Mu’awiyah tiba di Madinah kemudian berkhutbah kepada kami, dia mengeluarkan seikat rambut kemudian berkata : “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang berbuat demikian ini kecuali orang-orang Yahudi. Sesungguhnya Rasulullah SAW saat hal itu hingga kepada beliau, menamakannya dengan Az-zuur (kepalsuan). [HR. Muslim juz 4, hal. 1680] Tentang perempuan mencukur (menggundul) rambut kepalanya
عَنْ خِلاَسِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَلِيّ قَالَ، نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص اَنْ تَحْلِقَ اْلمَرْأَةُ رَأْسَهَا. الترمذى 2: 198، رقم: 917
Dari Khilas bin ‘Amr dari ‘Ali, ia berkata, “Rasulullah SAW melarang perempuan mencukur (menggundul) rambut kepalanya”. [HR Tirmidzi juz 2, hal. 198, no. 917, hadits ini juga diriwayatkan oleh Nasai juz 8, hal. 130, hadits ini dla’if, lantaran dalam sanadnya ada perawi berjulukan Muhammad bin Musa Al-Harasyi].
عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص نَهَى اَنْ تَحْلِقَ اْلمَرْأَةُ رَأْسَهَا. الترمذى 2: 198، رقم: 918
Dari ‘Aisyah bahwasanya Nabi SAW melarang perempuan mencukur (menggundul) rambut kepalanya. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 198, no. 918, hadits ini munqathi’ lantaran Qatadah bin Da’amah tidak bertemu dengan ‘Aisyah].
عَنْ خِلاَسِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص اَنْ تَحْلِقَ اْلمَرْأَةُ رَأْسَهَا. الترمذى 2: 198، رقم: 918
Dari Khilas bin ‘Amr, ia berkata, “Rasulullah SAW melarang perempuan mencukur (menggundul) rambut kepalanya”. [HR. Tirmidzi, juz 2, hal. 198, no. 918, hadits ini mursal, lantaran Khilas bin ‘Amr tidak bertemu dengan Nabi SAW]. Sumber
=====
Sumber Lainnya

Sumber http://www.referensidunia.blogspot.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Larangan Ibarat Lawan Jenis Dalam Kajian Islam"

Posting Komentar