Loading...

Meluruskan Kekeliruan Imam

Loading...
Oleh Al Ustadz `Aunur Rofiq bin Ghufron

Meluruskan kekeliruan imam merupakan kewajiban umat Islam yang berilmu.
Kekeliruan imam dalam sholat tidak hanya berakibat jelek kepada dirinya
saja, tetapi akan mewariskan kesesatan kepada umat. Oleh lantaran itu wajib
bagi kita semua, apabila kita keliru hendaknya bersenang hati untuk
kembali kepada yang kebenaran sesudah mengetahui dalilnya. Tidak boleh
aib di hadapan insan hanya lantaran takut disalahkan atau gengsi karena
kehilangan wibawa. Malu dihadapan Allah lebih utama daripada aib di
hadapan manusia. Semoga Allah menunjukkan kepada kita yang haq dan
memudahkan kita untuk mendapatkan dan mengamalkannya. Dan memperlihatkan
kepada kita yang batil dan memudahkan kita untuk menjauhinya.

Sholat merupakan ibadah yang paling pokok sesudah seseorang berikrar
mengucapkan dua syahadat. Sholat yaitu ibadah yang tidak bisa dikurangi
atau ditambah, lantaran Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberi teladan eksklusif kepada
sahabatnya. Para sahabat telah melihat sholat dia setiap hari, dari
takbir hingga salam. Bahkan dia menyuruh umatnya supaya mengikuti
sholatnya tanpa menambah atau mengurangi.

Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam berpesan kepada sahabatnya, yang juga untuk semua umatnya :

Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat saya sholat. (HR Bukhori:
Kitabul Adzan)
Berpijak dengan hadits di atas, maka kita selaku imam wajib mempelajari
tuntunan sholat sesuai dengan sunnah Rasululloh Shallallahu 'alaihi wa sallam.


Beberapa Kekeliruan Imam

1. Berpakaian sangat tipis sehingga nampak auratnya.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin ketika ditanya bagaimana hukumnya
seseorang yang sholat dengan menggunakan baju luar sangat tipis berwarna
putih, tidak menggunakan kain dalam, melainkan celana pendek yang menutupi
sebagian paha saja, sedangkan kulit badannya terlihat.
Beliau menjawab:
"Jika orang itu menggunakan celana pendek tidak menutupi perut sampai
lututnya, sedangkan baju luarnya tipis sekali, orang itu pada hakikatnya
belum menutupi aurot, lantaran istilah menutupi aurot hendaknya menutupi
tubuh sehingga, tidak kelihatan kulitnya.
Allah berfirman: Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap
(memasuki) masjid. (QS Al-A'rof: 31)".
Rosululloh ketika melihat sahabat Jabir bin Abdulloh tiba kepadanya
malam hari kemudian dia sholat malam bersamanya, sedangkan waktu itu dia hanya
menyelimutkan pakaian yang sangat sempit sehingga membentuk semua tubuhnya
dia menasihatinya :
"Jika pakaian itu sempit, jadikanlah sarung (ikatkan kainmu mulai di atas
perut hingga ke bawah), kalau kainmu luas sekali, maka selimutkan ke
seluruh anggota badanmu". (HR. Bukhari: Kitabus Sholat)
Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin berkata:
"Ulama' telah sepakat, bahwa orang yang sholat sedangkan kulitnya
kelihatan (karena pakaiannya yang sangat tipis) padahal ia bisa menutupi
aurotnya dengan pakaian tebal, maka sholatnya tidak sah." (Lihat Fatawa
Manorul Islam 11150)
Imam Syafi'i berkata:
"Jika orang sholat menggunakan baju tipis sehingga kelihatan kulimya, maka
tidak sah sholatnya". (Kitab Al-Umm 1/78)


2. Mengenakan pakaian luar yang sangat sempit

Imam hendaknya mengenakan pakaian yang lapang dan luas, dihentikan sempit
kepingan Iuamya, lantaran akan mengganggu ketenangan dan kekhusyu'an sholat,
bahkan akan membatalkan sholat apabila dia menggunakan kaos dan celana sempit,
sehingga apabila ruku' dan sujud kelihatan sebagian kulit punggungnya.
Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan berkata:
"Barangsiapa sholat menggunakan celana sempit (press body), sedangkan dia
menggunakan kemeja pendek, pada waktu ruku' dan sujud tertarik kemejanya
sehingga kelihatan sebagian punggungnya yang seharusnya tertutup, maka
batal sholatnya. Ini yaitu efek jelek dan menggunakan pakaian yang diimpor
dari orang barat". (Al-Qoul Mubin Fii Akhthoil Mushollin 28)


3. Mengenakan pakaian bergambar

Hendaknya pakaian imam higienis dari gambar dan lukisan, supaya tidak
mengganggu ketenangan orang yang sedang sholat. Dalilnya:
Dari Aisyah dia berkata:
Rosululloh menggunakan khomishah (baju yang berjahit dengan benang sutra atau
bulu binatang) miliknya. Baju itu banyak lukisan dan gambarnya. Lalu
bellau melihat lukisan-lukisannya. Tatkala final sholat, dia berkata:
pergilah dengan membawa baju ini, serahkan kepada Abi Jahm, katakan bahwa
baju ini tadi mengganggu sholatku, dan bawalah kemari baju tebal (yang
tidak berlukisan dan bergambar) milik Abi Jahm bin Khudzaifah. (HR.
Bukhori: Kitabul Libas)
Dari Anas ia berkata:
'Aisyah memiliki tabir (yang tipis berwarna lagi penuh dengan lukisan)
dibentuk untuk tabir kamar rumahnya. Nabi menyuruh 'Aisyah: Jauhkanlah tabir
ini, lantaran gambar dan lukisannya senantiasa mengganggu sholatku. (HR.
Bukhari: Kitabul Libas)


4. Isbal (menutup mata kaki)

Imam dihentikan mengenakan pakaian yang terlalu panjang hingga menutupi
mata kaki. Maka hendaknya dia mengenakannya di atas mata kaki atau
ditengah betisnya. Dalilnya:
Dari Abu Huroiroh ia berkata:
Tatkala ada seorang pria sholat mengenakan sarung yang menutupi mata
kakinya. Nabi menyuruh dia pergi supaya berwudlu. Orang itu pergi untuk
berwudlu kemudian datang, dia menyuruhnva pergi lagi, ada seorang laki-laki
hertanya: "Wahai Rosululloh mengapa engkau perintah dia berwudlu lagi?".
Bellau berpaling, kemudian dia berkata: "Orang itu shalat tetapi sarungnya
menutupi mata kakinya. Sesungguhnya Allah tidak mendapatkan sholat seorang
pria yang musbil (orang yang melaksanakan isbal - menggunakan sarung atau
celana yang menutupi mata kakinya).
(HR. Abu Dawud Kitabul Libas, Imam Ahmad, Imam Nasai. Imam Nawawi berkata:
"Sanadnya shohih berdasarkan kriteria Imam Muslim")
Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bias Hasan menukll pedoman dari Ibnul Qoyyim
Al-Jauziyah menjelaskan hadits di atas:
"Maksud hadits ini -wallahu a'lam bishshowab- bahwa menutupkan sarung
hingga mata kaki termasuk perbuatan maksiat, setiap orang yang melakukan
kemaksiatan diperintah supaya berwudlu dan sholat, lantaran wudlu itu bisa
aben kemaksiatan". (Al-Qoul Mubin Fii Akhthoil Mushollin hal. 37)


5. Merasa paling berhak menjadi imam lantaran usianya yang lebih tua

Seseorang diangkat (dipilih) menjadi imam bukanlah lantaran usianya, tapi
yang paling manis lagi tartil bacaan Al-Qur'annya. Dan kalau mungkin, yang
paling banyak hafalannya. Dalilnya:
Dari Abu Mas'ud Al-Anshory ia berkata: Rasulullah bersabda:
Hendaklah yang menjadi imam yang pintar bacaan Al-Qurannya. Apabila mereka
sama didalam kepandaiannya, hendaklah yang paling mengerti sunnah, jika
mereka sama dalam pengetahuan sunnahnya, hendaknya yang paling pertama
hijrahnya, kalau hijrahnya bersama-sama, hendaknya yang lebih dahulu masuk
Islamnya. Riwayat lain berbunyi: kemudian yang paling renta umurnya". (HR
Muslim: Kitabul Masajid wal Mawadli)
Lembaga Fatwa'Ulama Saudi Arabia berfatwa:
Pilihlah diantara mereka yang paling manis lagi tartil bacaannya dan yang
paling banyak hafalannya.
(Fatawa Lajnah AdDaimah Lilbuhus Al-Ilmiyah Wal Ifta 7/348)


6. Tidak lancar membaca ayat Al-Qur'an dan tidak faham tajwid dan
makhrojnya.

Imam hendaknya berusaha untuk mempelajari makhroj dan tajwidul Qur'an,
supaya bacaannya benar, sanggup menambah kekhusyuan dan tidak meresahkan
makmum disebabkan tidak benamya bacaan imam.
Nabi bersabda:
Orang yang andal membaca Al-Qur'an gotong royong dengan malaikat yang mulia
yang baik, dan hiasilah Al-Qur'an itu dengan suaramu. (HR. Imam Bukhari
Kitabut Tauhid)
Syaikh Abdul Aziz bin Baz ketika ditanya wacana imam yang tidak baik
bacaan ayatnya, dia menjawab:
"Hendaknya kau berusaha menghafalkan surat-surat AlQur'an dengan tajwid
dan memperhatikan makhrojnya. Aku merasa optimis -dengan izin Allah- kamu
akan bisa menghafalkannya apabila ada perjuangan dan kesungguhan. (Majmu'
Fatawa Ibnu Baz 4/393)


7. Tidak memperhatikan jarak sutroh (batas tabir) di depannya.

Yang benar, imam hendaknya sebelum bertakbir, berdekatan dengan sutroh
(tabir) didepannya. Dalilnya:
Dari Sahl bin Abi Hasmah sampailah info kepada Nabi , kemudian Beliau
berkata:
Apabila salah satu diantara kau akan melaksanakan sholat menghadap ke
tabir (depan), hendaklah bersahabat dengan tabirnya, syetan tidaklah mampu
memutus sholatnya.
(HR Abu Dawud. Al-Albani berkata: Imam Hakim menshohihkannya, Imam
AdzDzahabi dan Imam Nawawi menyetujuinya)
Dalil jarak antara daerah bangun Nabi dengan tabir depannya tiga hasta:
Bilal berkata: Selanjutnya Rosululloh sholat, sedangkan jarak antara
daerah dia bangun dengan dinding di depannya yaitu tiga hasta. (HR.
Imam Ahmad)
Dalil jarak antara daerah sujud imam dengan dinding semisal berlalunya
kambing:
Dari Sahl bin Sa'ad ia berkata:
Antara daerah sujud Rosululloh dan tembok semisal daerah yang bisa dilalui
kambing.
(HR Imam Bukhori: Kitabus Sholat)


8. Tidak menghadap lurus ke arah kiblat.

Imam tidak menghadap kiblat, tetapi serong beberapa derajat ke arah kanan
(ke arah utara), padahal posisi kiblat sudah benar.
Yang benar imam lurus menghadap kiblat. Dari Jabir bin Abdillah ia
berkata:
Rosululloh apabila sholat (sunnah) di atas kendaraannya, dia menghadap
ke mana saja kendaraannya menghadap, tetapi apa bila dia ingin
menjalankan sholat wajib, dia turun dan menghadap ke kiblat. (HR Imam
Bukhori: Kitabus Sholat)


9. Tidak menghadap kepada makmum untuk meluruskan shof.

Sebelum imam bertakbirotul ihram tidak menghadap kepada makmum untuk
meluruskan shof. Yang benar, sebelum bertakbirotul ihrom hendaknya imam
menghadap kepada makmum untuk meluruskan shof. Dalilnya:
Anas bin Malik berkata: Ketika final qomat, Rosululloh menghadap ke arah
kami dengan wajahnya. seraya berkata: Luruskan shofmu, rapatlah, karena
saya melihatmu dari belakang punggungku.
(HR Imam Bukhori Kitabul Adzan)


10. Hanya melihat shof makmum sebelum bertakbirotulihrom.

Yang benar, imam menghadap kepada makmum dan melihat shof sambil berpesan:
sawwu shufufakum (luruskan barisanmu), tarooshuu (rapatkan shofmu), suddul
kholal (rapatkan yang masih renggang) dan kalimat semisalnya. Dalilnya:
Dari Anas bin Malik dari Nabi dia berkata: sawwuu shufufakum fa inna
taswiyatash shuhuf min iqamatishsholaat (luruskan shafmu lantaran lurusnya
shof termasuk menegakkan shalat)
(HR Bukhori Kitabul Adzan. Di dalam riwayat Bukhori yang lain, Nabi
bersabda: Aqiimuu shufufakum (luruskan shofmu), tarooshshuu (rapatlah))
Didalam riwayat Abu Dawud, Nabi bersabda:
Haadzuu bainal manakib (rapatkan antara pundak), suddul kholal (tutuplah
yang kosong).


11. Melafadzkan niat dengan bacaan usholli

Ketika akan bertakbirotul ihram imam melafadzkan niat (misal : membaca
usholli .... dan seterusnya) bahkan kadang-kadang mengeraskannya. Niat
itu tempatnya dihati, tidak perlu diucapkan dengan lisan, lantaran ucapan
yang pertama pada waktu sholat ialah takbir "Allohu Akbar" sebagaimana
sabda Nabi Muhammad:
Dari 'Aisyah, dia berkata: Rosululloh memulai sholatnya dengan takbir,
selanjutnya dia membaca alhamdulillahi rabbil 'alamin. (HR. Muslim:
Kitabul Sholat)
Imam Nawawi berkata:
"Niat hendaknya hadir bersamaan dengan membaca takbirotul ihram". (Sifatus
Sholatin Nabi oleh Al-Albani: 85)
Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata
"Melafadzkan niat ketika akan bertakbirotul ihrom tidak ada teladan dari
Nabi Muhammad, bahkan perbuatan itu termasuk bid'ah".
(Majmu' Fatawa Ibnu Baz 4/202)


12. Berulang-ulang mengangkat kedua tangannya ketika bertakbirotul ihrom.

Yang benar mengangkat tangan ketika bertakbirotul ihram hanya sekali,
sebagaimana teladan dari Nabi dan para sahabatnya.
Ibnul Qoyyim Aljauzy berkata:
"Di antara macam-macam waswas yang merusak sholat ialah mengulang-ulangi
sebagian kalimat, menyerupai ketika duduk bertahiyyat membaca at ..at
..attahi ..attahiyatu, pada waktu salam membaca as.. as ..assaa
..assalamu'al dan ketika bertakbir ak ..ak ..ak ..akbar atau semisalnya.
Pengulangan itu pada dzohimya membatalkan sholat. Jika yang melaksanakan imam
maka dia telah merusak sholat makmum. (Ighotsatu Lahfan Min Mashoyidis
Syaithon 1/158)


13. Bersedekap di atas lambung kiri

Yang benar yaitu bersedekap dengan meletakkan telapak asisten di
ganjal punggung tangan kiri, atau di atas pergelangan tangan kiri, atau di
atas lengan tangan kiri, kemudian diletakkan di atas dada, sedangkan tangan
kanan adakala menggenggam tangan kiri dan kadangkala tidak. Dalilnya:
Dari Abu Huroirah dia berkata: Rosululloh melarang meletakkan Iangan di
ganjal lambung ketika shalat. (HR Abu Dawud).
Adapun dalil teladan bersedekap berdasarkan sunnah:
Selanjutnya Rosululloh meletakkan tangan kanannya di ganjal tapak tangan
kiri, (atau) di ganjal pergelangan (langan kiri) atau di atas lengan kiri.
(HR Abu Dawud Kitahus Sholal. An-Nasai Kitabul lftitah. Ibnu Hibban di
dalam shohihnya (485) Al-Albani berkata: sanadnya shahih. )
Lalu dia meletakkan dua tangannya di atas dada, sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah didalam kitab shohihnya: 1/54.


14. Membaca AI-Fatihah terlalu cepat, menyambung ayat dengan ayat yang
lain (tidak berhenti setiap ayat).

Yang benar, imam ketika membaca surat Fatihah atau surat yang lain pada
waktu sholat hendaknya berhenti setiap ayat.
Rosululloh memberi teladan kepada sahabatnya membaca Fatihah ayat demi
ayat, membaca Bismalahir Rahmaanir Rahiim kemudian berhenti, Alhamdulillahi
rabbil 'alamiin kemudian berhenti, Ar-Rahmaanir Rahiim kemudian berhenti dan
demikianlah seterusnya. demikian pula bacaan dia untuk setiap surat,
dia berhenti setiap pangkal ayat dan tidak menyambungnya.
(Lihat Sifatus Sholatin Nabi oleh Al Albani 96)


15. Membaca robbighfirli seusai membaca Fatihah.

Yang benar, Imam sesudah membaca surat Fatihah dengan jahr, hendaknya
membaca aamiin dengan bunyi keras pula. Adapun dalilnya sebagaimana point
. Adapun membaca robbighfirli sesudah membaca Fatihah termasuk amalan
bid'ah.


16. Tidak mengucapkan 'amin' dengan bunyi keras

Yakni usai membaca Fatihah pada dua roka'at pertama sholat jahr.
Yang benar: ketika Imam membaca Fatihah dengan bunyi keras hendaknya
membaca aamiin dengan bunyi keras. Dalilnya:
Dari Wail bin Hujr ia berkata: Rasulullah apabila final membaca waladh
dhaaalliiin, dia membaca aamiin dengan bunyi keras.
(HR Abu Dawud: Kitabus Shalat dengan sanad yang shahih)


17. Memanjangkan bacaan takbir

Membaca takbir intiqol (takbir pada ketika pindah gerakan shalat) dengan
melantunkan suara, seperti: ...aaaaallahu akbar atau ...allaaaaahu akbar
atau ..aaallaaaaahu akbaaaaar.
Bacaan takbir yang benar ialah allaahu akbar (huruf lam jalalah dibaca dua
harokat), baik pada waktu takbirotul ihram atau takbir intiqol, karena
bacaan yang seharusnya dibaca pendek kemudian dibaca panjang akan merubah
makna.
Ibnu Hazm berkata:
"Tidak dibenarkan bagi imam memanjangkan (melanturkan) bacaan takbir,
tetapi hams mempercepat. Tidak dibenarkan ketika ruku', sujud, bangun dan
duduk kecuali harus sempuma bacaan takbimya". (Al Muhalla: 4/151)


18. Tergesa-gesa dalam setiap gerakan, sehingga hilang kekhusu'annya.

Yang benar setiap gerakan hendaknya disertai dengan tuma'ninah, karena
Nabi pernah menyuruh orang supaya mengulangi shalatnya ketika sholamya
terlalu cepat. Beliau bersabda:
"...maka apabila kau ruku', letakkan dua tapak tanganmu di atas dua
lututmu, ulurkan punggungmu, kokohkan ruku'mu, kalau kau mengangkat
kepalamu (dari ruku') luruskan tulang rusukmu sehingga kembali tulang itu
kepada persendiannya, kalau kau sujud maka kokohkan sujudmu, kalau kamu
mengangkat kepalamu (dari sujud) duduklah di atas pahamu yang kiri,
selanjutnya kerjakan itu semua setiap ruku' dan sujud. (HR Imam Ahmad:
Musnad Al-Kufiyyin)


19. Mengusap wajah dengan tangan sesudah mengucapkan salam

Yang benar, sesudah salam tidak mengusap muka dengan tangannya, karena
tidak ada teladan dari Nabi. Syaikh Ibnu Baz ketika dia ditanya tentang
aturan mengusap muka sesudah salam, dia menjawab:
Tidak ada tuntanannya, tetapi kalau mengusap mukanya sebelum salam hukumnya
makruh, lantaran Nabi ketika salam pada waktu sholat subuh, dahinya
kelihatan bekas tanah basah, lantaran pada malam harinya turun hujan. Ini
mengatakan lebih utamanya sebelum salam tidak mengusap mukanya.
(Majmu' Fatawa Ibnu Baz: 4/272)


20. Tidak menghadap kepada makmum sesudah salam

Biasanya imam tetap menghadap kekiblat sesudah salam atau menghadap ke
utara (arah kanan kiblat). Yang benar, sesudah salam imam boleh menghadap
kiblat sebentar saja untuk istighfar 3 kali dan berdzikir menyerupai dzikir
Nabi dibawah ini:
Dari 'Aisyah dia berkata: Nabi apabila sesudah salam, dia tidak duduk
melainkan kira-kira membaca: "Allaahumma antas Salaam wa minkas salam
tabaarakta dzal jalaali wal ikroom."
(HR Muslim: Kitabul Masajid Wal Mawadli')
Syalkhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:
"Tidak layak bagi imam duduk sesudah salam menghadap kiblat melainkan
untuk beristighfar 3 kali dan membaca: "Allaahumma antas Salaam wa minkas
salam tabaarakta dzal jalaali wal ikroom."
(Majmu' Fatawa Ibnu Timiyah 22/505)
Rosululloh apabila final salam, mengbadap kepada makmum, dalilnya:
Kemudian dia salam, kemudian dia menghadap ke arah kami.
(HR Muslim, Kitabul Masajid wal Mawadli')
Beliau duduk usang sesudah salam menghadap kepada makmum bila ada
kepentingan, menyerupai memberi hikmah dll. Dalilnya:
Dari Anas, dia berkata: Rosululloh pernah mengimami kami pada suatu hari,
sesudah dia salam dia menghadap kepada kita, kemudian dia memberi
nasihat: "Wahai insan ... "
(HR Muslim Kitabus Sholat).


21. Memimpin dzikir dan membaca Fatihah gotong royong sesudah salam

Yang benar, dzikir sesudah sholat diakukan sendiri-sendiri bagi yang
berhajat. Lembaga Fatwa `Ulama Saudi Arabia berfatwa:
"Sedangkan petunjuk Nabi bahwa dia berdzikir dan berdo'a sendirian,
dia tidak pemah mengomando sahabatnya untuk berdzikir bersam-sama.
Adapun sebagian insan membaca Fatihah dan do'a gotong royong dikamandoi
oleh imam sesudah shalat termasuk amalan bid'ah."
(Fatawa Lajnah Ad-Daimah Lilbuhus Al-Ilmiyah Wal Ifta' 7/122)


Dikutip dari majalah Al-Furqon Edisi 11 Th. I 1423H hal 11 - 12


 Meluruskan kekeliruan imam merupakan kewajiban umat Islam yang cerdik Meluruskan Kekeliruan Imam
SUMBER
Sumber http://www.referensidunia.blogspot.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Meluruskan Kekeliruan Imam"

Posting Komentar