Loading...

Keutamaan Dan Tata Cara Shalat Berjamaah

Loading...

 Shalat berjamaah diperintahkan oleh Nabi SAW dengan pengutamaan khusus Keutamaan dan Tata Cara Shalat BerjamaahSUMBER - Shalat berjamaah diperintahkan oleh Nabi SAW dengan pengutamaan khusus. Para alim-ulama Islam sejak awal sejarahnya telah mencoba menyelami alasan di balik itu. Ini bukan sebab sekadar mencari pembenar untuk meyakin-yakinkan diri sendiri. Melainkan sebab gairah untuk lebih memahami belakang layar di balik perintah Rasul yang maksum itu. Kita di zaman modern ini ternyata masih saja sanggup menemukan makna itu lewat aneka bentuk pengkajian — termasuk melalui media menyerupai ini.
Selama hidupnya Nabi SAW selalu menyerukan ditegakkannya shalat. Padahal, perintah shalat dalam ayat-ayat Al Alquran juga seolah diucapkan dalam satu tarikan nafas dengan perintah bersedekah. Tidak kurang ada 25 daerah dalam Al Alquran yang menyerukan shalat setarikan nafas dengan bersedekah, berzakat atau memberi kepada sesama. Dengan demikian secara implisit Al Alquran menggariskan adanya “fungsi sosial” dari shalat menyerupai itu.
Karena melihat fakta demikian, sanggup dimaklumi bahwa shalat yang benar haruslah dilakukan secara berjamaah. Sebab, untuk menunaikan perintah lanjutan yang sangat erat kaitannya dengan perintah shalat —yakni beramal atau memberi kepada sesama itu— maka shalat harus dilakukan secara berjamaah. Sudah tentu dengan cara ”berjamaah yang berkualitas”.
Nabi Geram Kepada yang Tidak Berjamaah
Dalil wacana keutamaan shalat berjamaah kita peroleh dari hadits Ibnu Umar, yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
… صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِيْنَ دَرَجَةً
Shalat jama’ah melebihi shalat sendirian dengan (pahala) dua puluh tujuh derajat.” (Muttafaqun ‘alaih Fathul Bari II: 131 nomor 645; Muslim I: 450 nomor 650; Tirmidzi I: 138 nomor 215; Nasa’i II nomor 103 dan Ibnu Majah I: 259 nomor 789).
Tentu saja masih banyak hadits yang mendukung itu, baik wacana besaran pahala, maupun keutamaan yang lain. Tentang besaran pahala, ada hadits sahih yang menyebut angka 25 derajat. Apapun halnya, angka-angka itu mengatakan kelebihan shalat berjamaah yang jauh di atas shalat yang dilaksanakan secara soliter. Tidak salah pula kiranya kalau angka itu tidak dipahami secara eksak-matematis, melainkan dalam pengertian kiasan, yang pada pada dasarnya mengatakan keutamaan luarbiasa dari shalat berjamaah.
Ada hadits Nabi yang menunjukkan betapa junjungan kita itu merasa sangat geram manakala umatnya shalat sendiri-sendiri.
Rasulullah saw. bersabda, “Mau saya rasanya menyuruh orang untuk shalat… kemudian saya pergi bersama beberapa orang yang membawa kayu bakar untuk mendatangi mereka yang tidak ikut shalat dan aben rumah-rumah mereka …. (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah dengan lafal dari Muslim).
Tentu saja hadits tersebut sifatnya pengandaian; untuk menggambarkan betapa sungguh-sungguh usul Nabi untuk berjamaah. Faktanya, sepanjang sejarah tidak hingga ada rumah yang dibakar Nabi sebab alasan itu — bahkan untuk alasan lain manapun. Kaum muslimin sudah cukup diyakinkan dengan usul Nabi yang dimuliakan mereka, atau cukup dengan pelbagai bentuk pahala yang dijanjikan, tidak hingga perlu dipaksa-paksa. Tentu saja ada pengecualiannya, yakni: kaum munafik.
Dalam variasi riwayat yang lain Nabi SAW melengkapi pengandaian itu dengan kalimat berikut: “… Shalat Isya’ dan shalat Fajar yakni shalat yang paling dirasakan berat bagi orang-orang munafik. Padahal kalau saja mereka tahu, pasti mereka akan mendatangi masjid bahkan kalau perlu dengan merangkak sekalipun.
Memang nyaris tidak ada perkecualian bagi setiap lelaki untuk berjamaah di masjid. Dalam kondisi apapun, setiap pria hendaknya shalat berjamaah dengan dasar aturan sunnah muakadah (yang dikuatkan hingga mendekati wajib). Bahkan jikalau beliau buta pun, tetap diharuskan untuk berjamaah di masjid. (Lihat boks: Ikuti Arah Kumandang Adzan.) . Untuk kaum perempuan, Nabi memberi akomodasi tidak harus berjamaah di masjid. Namun sebab berjamaah itu nilainya 27 derajat lebih tinggi, maka sudah tentu perempuan pun harus menunaikannya —kendati itu dilaksanakan di rumah.
Jamaahnya di Mana?
Para pria sudah tentu berjamaahnya di masjid. Hal itu lebih utama. Sementara bagi perempuan, hendaknya suaminya jangan hingga melarang jikalau mereka bermaksud berjamaah di masjid. Tuntunan Nabi wacana itu termaktub dalam hadits berikut:
“Janganlah kalian melarang para perempuan (pergi) ke masjid dan hendaklah mereka keluar dengan tidak menggunakan wangi-wangian.” (HR. Ahmad dan Abu Daud, hadits shahih)
Dari situ kita tahu bahwa perempuan pergi ke masjid itu diseyogyakan manakala keuntungannya lebih besar atau kalau mudaratnya (dampak dari ‘memakai wangi-wangian’) sanggup dihindarkan. Frasa “memakai wangi-wangian” dalam teks hadits itu hendaknya tidak dipahami harafiah; bukannya terlarang menggunakan parfum, melainkan harus dipahami sebagai “hal itu akan memberi dampak tertentu kepada orang lain (laki-laki)”. Kita tahu, parfum yakni peranti yang sangat efektif untuk menarik perhatian orang lain. Selain itu, jikalau tidak ditekankan demikian, ada kemungkinan terjadi jamaah saling berlomba mengenakan parfum. Bahkan di zaman kini pun, sudah tentu segi negatif dari hal ini akan segera tampak.
Dengan demikian, jikalau diadaptasi dengan konteks zaman kita sekarang, di mana keadaan sudah sangat kondusif, aman dan damai, maka perempuan shalat berjamaah di masjid merupakan keniscayaan. Namun perlu segera diingat bahwa ada hadits sahih yang menyitir sabda Nabi yang dinilai shahih oleh Abu Daud sebagai berikut:
Janganlah kau sekalian mencegah istri-istrimu pergi ke masjid, namun (ingat) rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.”
Tatacara Shalat Berjamaah
Bagaimana shalat jamaah dilaksanakan? Ada beberapa topik terkait dengan pelaksanaan shalat berjamaah, yakni: penetapan imam, posisi imam dan makmum, cara makmum menyusul sebab terlambat (masbuq), ahlaq sebagai imam, ahlaq sebagai makmum terhadap imam, keutamaan sehabis shalat.
Penetapan imam. Untuk menetapkan imam yang didahulukan ialah orang yang lebih banyak mempunyai hafalan Al Alquran dan lebih memahami aturan Islam. Apabila di kalangan para jamaah itu dinilai setara, maka didahulukan yang lebih pintar dan lebih mengetahui wacana sunnah-sunnah Nabi SAW. Kriteria lainnya yakni didahulukan orang yang lebih dahulu berhijrah. Apabila sama juga, maka didahulukan yang lebih bau tanah usianya.
“Rasulullah SAW berkata kepada kami: “Hendaknya yang menjadi imam shalat suatu kaum yakni yang paling hafal al Qur`an dan paling baik bacaannya. Apabila dalam bacaan mereka sama, maka yang berhak menjadi imam yakni yang paling dahulu hijrahnya. Apabila mereka sama dalam hijrah, maka yang berhak menjadi imam yakni yang paling tua. Janganlah kalian menjadi imam atas seseorang pada keluarga dan kekuasaannya, dan jangan juga menduduki permadani di rumahnya, kecuali ia mengizinkanmu atau dengan izinnya” [HR Muslim]
Hadits di atas sekaligus menyebut adat shalat yang harus kita indahkan. Yakni, jangan menjadi imam terhadap keluarga seseorang kecuali orang itu mengijinkan atau meminta. Bahkan sekadar “menduduki permadani di rumah” seseorang pun hendaknya harus seijin si pemilik. Untuk yang terakhir ini, sanggup saja itu dalam konteks shalat; namun sanggup jadi tidak berkaitan dengan shalat.
Karena itu, khususnya dalam komunitas jamaah shalat gres (misalnya di suatu masjid yang jamaahnya semula tidak saling kenal) seseorang dilarang maju dan mengangkat diri sendiri, melainkan diangkat dan dipilih jamaahnya. Mengapa? Karena dengan maju mengangkat diri sendiri itu berarti beliau menganggap dialah yang paling memenuhi kriteria imam menyerupai hadits di atas. Nah, bukankah itu jumawa? Akhlaq yang dituntunkan Nabi SAW mencegah kita berlaku demikian.
Jika Datang Telat Berjamaah
Adab yang dituntunkan Nabi SAW, kita tiba ke masjid untuk berjamaah dengan suasana hati tenang dan tidak tergesa-gesa. Shalat pun diharuskan untuk tuma’ninah, tenang, las-lasan (bhs Jawa). Manakala shalat jamaah sudah didirikan, orang yang tiba belakangan hendaknya juga tidak buru-buru, tidak perlu tergesa-gesa demikian rupa sehingga resah (kemrungsung – Jw).
Orang yang tiba terlambat itu (disebut masbuq), berusaha bergabung dengan shalat jamaah yang sedang berlangsung dan tidak mendirikan shalat sendiri. Terlebih lagi kalau beliau hanya sendirian. Untuk keadaan menyerupai ini sunnah Nabi menuntunkan sebagai berikut: Dia takbiratul ihram lebih dulu, kemudian takbir untuk mengikuti gerakan yang paling mungkin beliau ikuti. Kalau beliau menemukan imam sudah sujud, maka beliau pribadi mengikuti imam — pendeknya beliau mengikuti imam dalam keadaan imam sedang melaksanakan gerakan shalat apapun.
Kalau saja ketika beliau bergabung imam sudah dalam keadaan tahiyat selesai —sehingga tinggal menunaikan salam— maka beliau pribadi duduk bersimpuh tahiyat akhir. Namun ketika imam mengucap salam, beliau tidak mengikuti salam, melainkan bangun berdiri dan menggenapkan kekurangan jumlah rakaatnya. Jika beliau bergabung tadi masih sempat mengikuti ruku’, maka beliau dihitung sudah mengikuti 1 (satu) rakaat. Tapi kalau beliau bergabung sempurna ketika imam mengucap “samiallahu liman hamidah”, maka itu belum dihitung satu rakaat. Kaprikornus beliau menggenapkan kekurangannya.

POSISI IMAM DAN MAKMUM DALAM SHALAT JAMAAH

Berdasar dalil Sunah Nabi SAW yang sahih dan makbulah, posisi imam dan makmum yakni sebagai berikut:
1. Jika imam dan makmum sama-sama laki-laki, dan makmum pun hanya seorang, maka beliau berdiri di sebelah kanannya sejajar dengan posisi imam.
 Shalat berjamaah diperintahkan oleh Nabi SAW dengan pengutamaan khusus Keutamaan dan Tata Cara Shalat Berjamaah
2. Jika imam pria diikuti satu atau lebih jamaah perempuan, maka posisi makmum berada di belakang imam.
 Shalat berjamaah diperintahkan oleh Nabi SAW dengan pengutamaan khusus Keutamaan dan Tata Cara Shalat Berjamaah
3. Jika imam dua orang atau lebih dan semuanya sama jenis kelaminnya: Makmum berdiri membentuk shaf di belakang imam. Shaf dibuat dimulai sempurna dari belakang imam, terus dipenuhi ke sebelah kanan, gres diteruskan dengan memenuhi sebelah kiri imam dan kirinya lagi hingga penuh.
 Shalat berjamaah diperintahkan oleh Nabi SAW dengan pengutamaan khusus Keutamaan dan Tata Cara Shalat Berjamaah
4. Jika makmumnya pria dan perempuan, maka makmum pria di depan, kemudian makmum perempuan di belakang makmum laki-laki. Ini berlaku untuk jumlah berapapun makmumnya. Cara menyusun shafnya dimulai dari tengah (tepat di belakang imam), kemudian untuk lebih afdal dengan memenuhi dulu sisi kanan dari belakang imam diteruskan dari belakang imam ke kiri.
 Shalat berjamaah diperintahkan oleh Nabi SAW dengan pengutamaan khusus Keutamaan dan Tata Cara Shalat Berjamaah
  1. Imam perempuan jikalau diikuti oleh makmum perempuan mengikuti tatacara sebagai berikut:
    • Untuk makmum seorang, berdiri di sebelah kanan imam:
    •  Shalat berjamaah diperintahkan oleh Nabi SAW dengan pengutamaan khusus Keutamaan dan Tata Cara Shalat Berjamaah
    • Untuk makmum perempuan lebih dari seorang dan bahkan dengan shaf yang lebih dari satu, posisi imam berada di tengah-tengah shaf pertama, kemudian shaf berikutnya berjajar di belakangnya:
    •  Shalat berjamaah diperintahkan oleh Nabi SAW dengan pengutamaan khusus Keutamaan dan Tata Cara Shalat Berjamaah

Sumber http://www.referensidunia.blogspot.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Keutamaan Dan Tata Cara Shalat Berjamaah"

Posting Komentar