Loading...

Isyarat Jari Telunjuk Dikala Tasyahud

Loading...
Telah Sampai Kepada Kami pertanyaan di lembaga ini mengenai bagaimana posisi aba-aba jari ketika duduk tasyahud apakah membisu atau digerak-gerakkan. Walaupun perkara ini ialah perkara yang teramat sangat klasik dan hampir tidak ada lagi orang yang mempermasalahkannya, namun perbedaan mungkin sebagian sobat kita ada yang tergelitik ingin mengetahui duduk dilema sebenarnya ketika melihat fakta di lapangan ada nya perbedaan dalam cara orang melakukanisyarat ketika duduk tasyahud dalam shalat. Oleh sebab itu sepakat kami kumpulkan beberapa hadits yang membahas perkara ini.


Isyarat Dengan Berapa Jari ?
Sebelum membahas lebih jauh, terlebih dahulu kami kemukakan bahwa aba-aba ketika duduk tasyahud itu ialah dengan 1 jari saja, tidak dua atau lebih.
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah bin Al Mubarak Al Mukharrimi dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dia berkata; telah menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu Shalih dari Sa’ad dia berkata; “Rasulullah s.a.w. pernah melewatiku yang sedang berdoa dengan jari-jariku, kemudian dia s.a.w. bersabda: ‘(gunakan) satu jari, (gunakan) satu jari’. Beliau s.a.w. juga memperlihatkan aba-aba dengan jari telunjuk. (H.R. Nasa’i No. 1256:) Nashiruddin Al-Albani menyampaikan hadits ini shahih
Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Basysyar dia berkata; telah menceritakan kepada kami Shafwan bin ‘Isa dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ajlan dari Al Qa’qa’ dari Abu Shalih dari Abu Hurairah r.a. bahwa ada seseorang yang berisyarat dengan dua jarinya, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “(Gunakan) satu jari, (gunakan) satu jari.” (H.R. Nasa’i No. 1255:) Nashiruddin Al-Albani menyampaikan hadits ini shahih
Ada satu hadits yang menyatakan Ibnu Uyainah memberi aba-aba dengan lebih dari satu jari, namun ditegaskan oleh sobat Abu Al Walid dengan satu jari telunjuk saja.
Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Walid Ath Thayalisi telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyainah dari Ibnu ‘Ajlan dari ‘Amir bin Abdullah bin Az Zubair dari Ayahnya ia berkata, “Saya melihat Nabi s.a.w. berdoa demikian di dalam shalat.” Ibnu ‘Uyainah memperlihatkan aba-aba memakai jari-jarinya, dan Abu Al Walid berisyarat memakai jari telunjuk.” (H.R. Darimi No. 1304)
Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Rasulullah s.a.w. bila duduk dalam shalat, dia meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya, kemudian mengangkat jari tulunjuk kanannya yaitu jari yang berdekatan dengan ibu jari, kemudian dia berdo’a. Sementara tangan kirinya dia letakkan di atas lututnya dan dibentangkan kemuka (tidak digenggam). (H.R. Ahmad No. 6063)

Ibu Jari dan Jari Tengah Membentuk Lingkaran Lalu Jari Telunjuk Menunjuk
Ini ialah posisi yang paling banyak riwayat haditsnya. Hadits-hadits yagn menyebutkan ihwal cara memberi aba-aba menyerupai ini juga rata-rata berderajat shahih.
Dan Telah menceritakan kepada kami Abd bin Humaid telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ayyub dari Nafi’ dari Ibn Umar “bahwa apabila Rasulullah s.a.w. duduk tasyahhud, dia meletakkan tangan kirinya diatas lutut kirinya dan meletakkan tangan kanannya diatas lutut kanannya, dan dia lingkarkan jarinya sehingga membentuk angka lima puluh tiga, kemudian dia memberi aba-aba dengan jari telunjuk.” (H.R. Muslim No. 912)
Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ dan Abd bin Humaid. Abd mengatakan; telah mengabarkan kepada kami, sementara Ibnu Rafi’ mengatakan; telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari ‘Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibn Umar, bahwa apabila Nabi s.a.w. duduk dalam shalat, dia meletakkan kedua tangannya d iatas kedua lututnya, dan dia angkat jari kanan sebelah jempolnya (telunjuk) sambil memanjatkan doa, sementara tangan kirinya di atas lutut kirinya sambil dibuka.” (H.R. Muslim No. 911)
Telah mengabarkan kepada kami Ya’qub bin Ibrahim dia berkata; telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu ‘Ajlan dari ‘Amir bin ‘Abdullah bin Az Zubair dari Bapaknya bahwa Rasulullah s.a.w. apabila duduk ketika tasyahud maka dia meletakkan telapak tangan kiri diatas paha kiri serta menunjuk dengan jari telunjuknya, dan pandangannya tidak pernah melebihi telunjuknya. (H.R. Nasa’i No. 1258) Nashiruddin Al-Albani menyampaikan hadits ini shahih
telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Ghailan dan Yahya bin Musa dan beberapa orang mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq dari Ma’mar dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar berkata; “Nabi s.a.w. bila duduk di dalam shalat, dia meletakkan tangan kanannya di atas lutut dan mengangkat jari sebelah ibu jari kanan -maksudnya jari telunjuk- dan berdo`a dengannya. Dan dia juga meletakkan tangan kirinya di atas lutut dengan membentangkan jari-jarinya.” (H.R. Tirmidzi No. 271 )Nashiruddin Al-Albani menyampaikan hadits ini shahih
Abu Isa berkata; “Hadits Ibnu Umar ini derajatnya hasan gharib (diriwayatkan dari 1 jalur saja), kami tidak mengatahui hadits tersebut dari Ubaidullah bin Umar selain dari jalur ini. sebagian hebat ilmu dari kalangan sobat Nabi s.a.w. dan tabi’in mengamalkan hadits ini. mereka menentukan untuk berisyarat dengan jari telunjuk ketika tasyahud. Ini ialah pendapat yang diambil oleh sahabat-sahabat kami.”
Telah menceritakan kepada kami Bundar Muhammad bin Basysyar berkata; telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir Al Aqadi berkata; telah menceritakan kepada kami Fulaih bin Sulaiman Al Madani berkata; telah menceritakan kepadaku Abbas bin Sahl As Sa’idi ia berkata; “Abu Humaid, Abu Usaid, Sahl bin Sa’d dan Muhammad bin Maslamah berkumpul, mereka menyebut-nyebut ihwal shalat Rasulullah s.a.w.. Lalu Abu Humaid berkata; “Aku ialah orang yang paling tahu ihwal shalatnya Rasulullah s.a.w. daripada kalian semua. Rasulullah s.a.w. duduk tasyahud seraya membentangkan kaki kirinya dan menghadapkan kepingan depan kaki kananya ke arah kiblat, dia meletakkan telapak tangan kanannya di atas lutut kanan dan telapak ajun kiri di atas lutut kiri. Lalu berisyarat dengan jarinya, yakni jari telunjuk.” (H.R. Tirmidzi No. 270 ) Nashiruddin Al-Albani menyampaikan hadits ini shahih
Abu Isa berkata Hadits ini derajatnya hasan shahih. Sebagian hebat ilmu berpegangan dengan hadits ini. Ini ialah pendapat Imam Syafi’i, Ahmad dan Ishaq. Mereka berkata; “Pada tasyahud final hendaknya seseorang duduk pada pangkal pahanya.” Mereka berdalil dengan hadits Abu Humaid, mereka berkata; “Pada tasyahud final hendaknya seseorang duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya.”
Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin ‘Isa dia berkata; telah memberitakan kepada kami Ibnul Mubarak dia berkata; telah menceritakan kepada kami Makhramah bin Bukair dia berkata; telah memberitakan kepada kami ‘Amir bin ‘Abdullah bin Az Zubair dari bapaknya dia berkata; “Rasulullah s.a.w. apabila duduk pada dua rakaat atau empat rakaat maka dia meletakkan kedua tangan di atas paha, kemudian mengisyaratkan dengan jarinya.” (H.R. Nasa’i No. 1149)
Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma’mar dari Ubaidullah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar, Rasulullah s.a.w. bila duduk dalam shalat, dia meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya, kemudian mengangkat jari tulunjuk kanannya yaitu jari yang berdekatan dengan ibu jari, kemudian dia berdo’a. Sementara tangan kirinya dia letakkan di atas lututnya dan dibentangkan kemuka (tidak digenggam). (H.R. Imam Ahmad No. 6063)
Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadlal dari ‘Ashim bin Kulaib dari ayahnya dari wa’il bin Hujr dia berkata; kataku; “Sungguh saya benar-benar melihat shalat s.a.w.,dan melihat bagaimana tata cara dia shalat.” Wa’il berkata; Rasulullah s.a.w. berdiri menghadap kiblat, kemudian dia bertakbir sambil mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinganya, kemudian tangan kanannya memegang tangan kirinya, ketika dia hendak ruku’, dia mengangkat kedua tangannya menyerupai tadi, kemudian dia meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya, ketika dia hendak mengangkat kepalanya dari ruku’ (i’tidal) dia mengangkat kedua tangannya lagi menyerupai tadi, dan ketika sujud, dia meletakkan kepalanya di daerah tersebut yaitu di antara kedua tangannya kemudian dia duduk dengan bertumpu di atas kaki yang kiri dan meletakkan tangan kiri di atas paha kiri dan merenggangkan siku yang kanan pada paha yang kanan, menggenggam kedua jarinya dengan membentuk menyerupai lingkaran, saya melihat dia memberi tanda demikian -Bisyr memperragakan dengan membentuk menyerupai bulat dengan ibu jari dan jari tengah.” (H.R. Abu Daud No. 624)
Dari semua hadits di atas diketahui bahwa pada ketika tasyahud Rasulullah s.a.w. memberi aba-aba dengan jari telunjuknya, sedangkan ibu jari dan jari tengahnya dipertemukan membentuk bulat sedangkan jari bagus dan kelingking nya ditekuk atau digenggam. Tidak disebutkan bahwa aba-aba telunjuknya itu digoyang-goyangkan atau digerak-gerakkan. Juga tidak disebutkan memberi aba-aba itu ketika membaca syahadat, di awal, di tengah atau di final duduk tasyahud. Yang terang aba-aba itu dilakukan pada ketika duduk tasyahud.

Menggenggam Tiga Jari Mengangkat Telunjuk
Telah menceritakan kepada kami Aswad bin Amir Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Mu’awiyah dari Ashim bin Kulaib bahwa bapaknya telah mengabarkan kepadanya, bahwa Wa`il bin Hujr telah mengabarkan kepadanya, ia berkata; Saya benar-benar akan melihat bagaimana Rasulullah s.a.w. menunaikan shalat. Beliau berdiri, mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinga. Kemudian dia memegang tangan kirinya dengan tangannya. Ketika dia hendak ruku’, dia mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua telinga, kemudian meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya. sehabis itu, dia bangun dan kembali mengangkat kedua tangannya menyerupai yang pertama. Kemudian dia sujud dan meletakkan tangannya sempurna sejajar dengan kedua telinga. Kemudian dia duduk Iftirasy (duduk dengan membentangkan kaki kiri) dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas lutut kirinya -paha pada sifat yang diterangkan oleh Ashim- serta dia meletakkan siku kanannya di atas paha kanannya. kemudian dia mengenggam tiga jari dan melingkarkan jari (tengah dengan ibu jarinya). Setelah itu, saya melihat menyerupai ini -Zuhair pun memberi aba-aba dengan jari telunjuknya, menggenggam dua jarinya dan melingkarkan ibu jari dengan jari tengah. (H.R. Ahmad No. 18120)

Menggenggam Semua Jari Kecuali Telunjuk
Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah bin Sa’id dari Malik dari Muslim bin Abu Maryam dari ‘Ali bin ‘Abdurrahman dia berkata; ” Ibnu Umar melihatku sedang menggerak-gerakan batu ketika dia shalat. Setelah selesai shalat ia melarangku dengan berkata; ‘Berbuatlah sebagaimana yang dilakukan Rasulullah S.a.w.’. Aku berkata; ‘Bagaimana Rasulullah S.a.w. berbuat? ‘ Abdullah menjawab; ‘Bila dia duduk dalam shalat maka dia meletakkan telapak ajun diatas paha kanan dan menggenggam semua jari-jari, kemudian berisyarat dengan jari telunjuk. Beliau juga meletakkan tangan kiri diatas paha kiri.” (H.R. Nasa’i No. 1250) Nashiruddin Al-Albani menyampaikan hadits ini shahih
Telah menceritakan kepada kami Al Qa’nabi dari Malik dari Muslim bin Abu Maryam dari Ali bin Abdurrahman Al Mu’awi dia berkata; Abdullah bin Umar melihatku, ketika saya sedang mempermainkan batu dalam shalat, seusai shalat, dia melarangku sambil berkata; “Perbuatlah menyerupai yang di perbuat oleh Rasulullah s.a.w..” kataku; ‘Bagaimana yang biasa di perbuat Rasulullah s.a.w.?” dia menjawab; “Apabila dia duduk dalam shalat, dia meletakkan telapak tangan kanannya di atas paha kanannya dan menggenggam semua jari jemarinya seraya menunjuk dengan jari yang akrab ibu jari (jari telunjuk) dan meletakkan telapak tangan kirinya di atas paha kirinya.” (H.R. Abu Daud No. 837) Nashiruddin Al-Albani menyampaikan hadits ini shahih
Berbeda dengan hadits-hadits sebelumnya. pada dua hadits ini terdapat riwayat bahwa ibu jari dan jari tengah tidak dipertemukan membentuk bulat melainkan digenggam semuanya kecuali jari telunjuk saja yang menunjuk.

Berdoa Tasyahud Dengan Mengangkat Kedua Tangan
Agak berbeda lagi dengan dua cara aba-aba yang dijelaskan sebelumnya, maka ada satu hadits yang menceritakan bahwa Rasulullah s.a.w. menghamparkan kedua tangannya ketika duduk tasyahud.
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu’aim telah menceritakan kepada kami Saif dia berkata; saya mendengar Mujahid berkata; telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Sahbarah Abu Ma’mar dia berkata; saya mendengar Ibnu Mas’ud r.a. berkata; “Rasulullah s.a.w. pernah mengajariku tasyahud -sambil menghamparkan kedua telapak tangannya” (H.R. Bukhari 5794) Hadits ini shahih.
Secara umum selama ini kita mengetahui bahwa dalam posisi tasyahud awal maupun final ketika sholat kita membaca doa tasyahud dengan memberi aba-aba telunjuk tangan dan jari tengah bertemu dengan ibu jari (kebanyakan hadits meriwayatkan hal ini). Namun dalam hadits ini di Bukhari meriwayatkan suatu ketika Rasulullah s.a.w. membaca doa tasyahud dengan menghamparkan kedua telapak tangan-nya.

Isyarat Tasyahud Menggerak-Gerakkannya Telunjuk
Pada hadits-hadits sebelumnya tidak dijelaskan bahwa aba-aba itu dengan menggoyang-goyangkan atau menggerak-gerakkan telunjuk, namun pada hadits di bawah ini suatu ketika ada yang melihat bahwa Rasulullah s.a.w. menggerak-gerakkan telunjuk nya ketika duduk tasyahud.
Telah mengabarkan kepada kami Suwaid bin Nashr dia berkata; telah memberitakan kepada kami ‘Abdullah bin Al Mubarak dari Zaidah dia berkata; telah menceritakan kepada kami ‘Ashim bin Kulaib dia berkata; bapakku telah menceritakan kepadaku sesungguhnya Wa’il bin Hujr berkata; “Aku akan melihat cara shalat Rasulullah S.a.w.. Kemudian saya melihat dia S.a.w. shalat.” -dia menyifatinya dengan berkata-; ‘Beliau duduk diatas kaki kiri serta meletakkan telapak tangan kiri diatas paha dan lutut kepingan kiri. Lalu dia s.a.w.meletakkan siku lengan kanan diatas paha kanan, kemudian menggenggam dua jari sehingga menjadi melingkar, kemudian dia mengangkat telunjuknya, saya melihat dia mengerak-gerakannya dan berdoa dengannya.” (H.R. Nasa’i No. 1251:) Nashiruddin Al-Albani menyampaikan hadits ini shahih. Nashiruddin Al-Albani juga menyatakan hadits dengan redaksi sama diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah dishahihkan oleh Ibnu Al-Mulaqqin.
Maka hadits ini yang dijadikan sandaran bagi orang yang beropini bahwa aba-aba telunjuk ketika duduk tasyahud ialah dengan menggerak-gerakkan (bukan diam) dan hadits ini pun shahih.
Dalam perkara menggerak-gerakkan jari ini kami menjumpai masih beberapa variasi gerakan, yaitu yang menggerakkan sebentar saja, kemudian diam, ada yang menggerak-gerakkan gres di final saja, ada yang menggerak-gerakkan terus namun dengan jeda yang jarang-jarang, dan ada yang mengerakkan terus menerus dengan frekuensi yang cepat. Namun semuanya menggerakkan dengan arah ke depan.
Sekali waktu kami pernah menjumpai yang menggerak-gerakkan telunjuk dengan arah berputar, namun hal ini jarang sekali dijumpai dan tidak populer. Kami rasa hal ini dianggap gila dan ganjil disamping tidak ada dalil yang melandasinya. Karena semua dalil menyebutkan mengangkat telunjuk dan bukan memutar-mutar telunjuk.

Maksud Dari Isyarat Telunjuk
Apa maksudnya aba-aba dengan menegakkan atau mengacungkan telunjuk itu? Ibnu Abbas menjelaskan hal ini merupakan lambang dari mengesakan Allah
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Syu’bah ia berkata; Aku mendengar Abu Ishaq menceritakan bahwa ia mendengar seorang pria dari bani Tamim, ia berkata; Aku bertanya kepada Ibnu Abbas ihwal ucapan seseorang dengan aba-aba jarinya, yakni begini (maksudnya mengacungkan jari telunjuk) di dalam sholat, maka Ibn Abbas menjawab; Itu keikhlasan (memurnikan Allah dengan aba-aba jari telunjuk bahwa Allah itu Esa, atau Tunggal). Atsar R Ahmad No. 2985)
Mungkin dari sinilah awal mula timbulnya pendapat bahwa mengacungkan telunjuk itu ketika pas mengucapkan syahadat sebab tujuannya ialah perlambang keesaan Allah. Sedangkan pada ketika doa yang lainnya maka aba-aba ini menjadi tidak pas. Sedangkan yang lain beropini bahwa tidak ada keterangan mengenai kapan aba-aba itu dilakukan kecuali pada ketika duduk tasyahud. Maka mereka beropini aba-aba itu dari awal hingga akhir, dan ada juga yang beropini di final tasyahud saja.

Mana Posisi Yang Benar?
Dalam perkara membisu atau menggerak-gerakkan telunjuk ini, Ibnul Qoyim Al-Jauzi tidak berkomentar lebih lanjut ihwal mana yang benar. Sedangkan Nashiruddin Al-Albani dalam Kitab Tata Cara Shalat Nabi beropini bahwa hadits yang menyampaikan menggerak-gerakkan jarinya diriwayatkan Nasa’i, Ibnu Hibban, Ibnu Khuzaimah terdapat sebuah dalil untuk terus menggerak-gerakan hingga salam. Mungkin Al-Albani berkesimpulan perkataan mengerak-gerakannya dan berdoa menunjukkan hingga salam sebab dikatakan dengan hal itu lah berdoa sedangkan keseluruhan tasyahud ialah doa.
Lebih lanjut Nashiruddin Al-Albani menyampaikan : “Jelaslah bahwa menggerak-gerakkan jari ialah sunnah Rasulullah s.a.w. yang tetap yang dilakukan oleh imam Ahmad dan imam-imam lainnya” Lalu dia mengutip perkataan Imam Ahmad ketika ditanya : “Apakah seseorang memperlihatkan aba-aba dengan jarinya ketika shalat ?” Imam Ahmad menjawab : “Ya”. Namun sejujurnya kami tidak paham di kepingan mana Imam Ahmad menegaskan perkara menggerak-gerakkan jari hingga dengan salam kecuali hanya meng-iya-kan perkara memberi aba-aba ?”
Nashiruddin Al-Albani juga menyampaikan bahwa hadits yang menunjukan bahwa Nabi s.a.w. tidak menggerak-gerakkan telunjuknya isnadnya tidak tetap dan dla’if sebagaimana diterangkan dalam dla’if Abu Daud (hal 175). Namun kami tidak paham bagaimana dengan hadits-hadits lainnya yang sangat banyak hadits shahih (itupun tidak kami kutip semuanya sebab saking banyaknya) yang sama sekali tidak menunjukan mengenai menggerak-gerakkan telunjuk ?
Lebih jauh lagi Nashiruddin Al-Albani menyampaikan : “Hendaklah bertakwa kepada Allah orang-orang yang beropini bahwa hal demikian (yaitu menggerak-gerakkan telunjuk) ialah perbuatan sia-sia/ Dengan demikian mereka tidak menggerak-gerakkan jarinya walaupun mereka mengetahui bahwa sunnah itu telah tetap dari Rasulullah s.a.w. Mereka berusaha keras mentakwilkannya dengan kata-kata yang bukan uslub Arab. Mereka melupakan ini sehingga mereka menolak sunnah yang telah tetap ini dan mencela orang yang mengamalkan sunnah ini”
Kami rasa hadits yang menyampaikan aku (Wa’il bin Hujr) melihat dia mengerak-gerakannya dan berdoa dengannya tidak bias dimutlakkan untuk menjelaskan hadits-hadits lainnya yang sangat banyak yang tidak menjelaskan sama sekali soal menggerak-gerakkan jari. Memang hadits ini hadits shahih juga, sehingga tidak sanggup mengalahkan atau membuang salah satu hadits yang sama-sama shahih. Maka biar semua hadits dalam perkara aba-aba ini sanggup terpakai diambillah perilaku bahwa semua hadits-hadits yang tidak menyebutkan sama sekali soal menggerak-gerakkan jari itu sebenarna bukan berarti Nabi s.a.w. tidak menggerakkan-gerakkan jarinya, melainkan semua hadits itu bersidat umum kemudian dijelaskan lebih detil dengan hadits yang menjelaskan bahwa yang dimaksud mengangkat jari telunjuk ialah Nabi s.a.w. menggerakkan-gerakkan jarinya selama berdoa.
Namun klarifikasi menyerupai di atas tidak sanggup dimutlakkan sebagai satu-satunya kebenaran. Karena masih ada cara lain biar tidak membuang salah satu hadits yang saling berbeda keterangannya namun sama-sama shahih, yaitu bahwa sanggup jadi suatu ketika Rasulullah s.a.w. melaksanakan begini dan suatu ketika yang lain Rasulullah s.a.w. melaksanakan yang lain. Hal ini bukan sebab Rasulullah s.a.w. plin plan melainkan sebagai bentuk fleksibilitas dan keluwesan serta keluasan syari’at Islam. Sebagaimana hal ini banyak terjadi pada masalah-masalah lainnya menyerupai Rasulullah s.a.w. pernah qunut dan pernah juga tidak, Rasulullah s.a.w. pernah mengharamkan daging keledai namun juga pernah memakannya, Rasulullah s.a.w. pernah berbuka puasa ramadhan ketika safar, juga pernah tidak berbuka, namun di ketika lain bahkan mewajibkan sobat untuk berbuka puasa ramadhan biar tidak lemah ketika berkecamuk peperangan. Dan masih banyak sekali contoh-contoh lainnya. Hal-hal semacam ini merupakan kelaziman dalam ranah fiqih dimana seringkali Rasulullah s.a.w. memperlihatkan banyak sekali pilihan cara teknis beribadah dan insan dipersilahkan mengikuti mana yang termudah bagi dirinya.
Rasulullah selalu menentukan yang termudah dalam urusan agama, sepanjang hal tersebut bukan merupakan dosa” (H.R. Muslim )

Kesimpulan
Dari uraian hadits-hadits di atas terdapat paling tidak 4 cara aba-aba yang berbeda ketika duduk tasyahud dalam shalat yaitu :
  1. Ibu jari dan jari tengah kanan bertemu membentuk lingkaran, kemudian telunjuk diangkat (menunjuk) dengan membisu tanpa digerakk-gerakkan. Sedangkan jari tangan kirinya terbuka (tidak digenggam)
  2. Semua jari kanan digenggam (tiga jari digenggam) kecuali telunjuk diangkat (menunjuk) dengan membisu tanpa digerakk-gerakkan, sedangkan jari tangan kirinya terbuka (tidak digenggam)
  3. Semua jari kanan digenggam kecuali telunjuk diangkat (menunjuk) dengan dengan digerakk-gerakkan dengan banyak sekali variasinya yang telah kami jelaskan, sedangkan jari tangan kirinya terbuka (tidak digenggam)
  4. Membuka / Menghampar kedua ajun dan kirinya tanpa mengangkat telunjuk sama sekali (baik membisu maupun digerakkan)
Dalam Fatawa An-Nabiy fii Ash-Shalah Ibnul Qoyim mengutip sebagian pendapat hebat bahasa bahwa yang dimaksud semua jari digenggam sama maksudnya dengan tiga jari digenggam, dan sebenarnya juga sama maksudnya dengan ibu jari dan jari tengah bertemu. Karena dalam posisi jari tengah bertemu itu sepintas kemudian nampak seolah tiga jari digenggam atau semua jadi digenggam kecuali telunjuk saja yang diangkat.
Dan dari keempat alternatif cara aba-aba ini sanggup disimpulkan bahwa perbedaan ini timbul sebab berbeda penglihatan dan kesaksian orang-orang ihwal cara shalat Rasulullah s.a.w. Namun cara ibu jari bertemu dengan jari tengah itu ialah klarifikasi pertengahan yang sanggup menjembatani semua perbedaan hadits-hadits itu.
Namun demikian kami tidak menganggap jalan tengah klarifikasi yang ditawarkan Ibnul Qoyim itu sebagai kebenaran mutlak. Kami mempersilakan pada Anda dari semua uraian di atas dan sekian cara shalat yang pernah dilakukan Rasulullah s.a.w. untuk menyimpulkan sendiri dan menentukan sebagai bentuk fleksibilitas dan keluwesan serta keluasan syari’at Islam. “Allah menghendaki akomodasi bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu(Q.S. Al-Baqarah [2] : 185) . Pilihlah yang paling dirasa cocok dan gampang bagi Anda sebab semuanya mempunyai landasan dalil yang shahih. Wallahua’lam.

Sumber
=====


Disunnahkan menggerakkan jari telunjuk ketika tasyahhud pada ketika berdoa, sebab tiba di dalam hadits Wa’il bin Hujr radhiyallahu ‘anhu:
أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفَعَ أُصْبُعَهُ فَرَأَيْته يُحَرِّكُهَا يَدْعُو بِهَا
“Bahwasanya dia shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat jari beliau, maka saya melihat dia menggerakkannya, seraya berdoa dengannya.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’I, Ahmad dan dishahihkan Syeikh Al-Albany dalam Al-Irwa’ no: 367))
Ini memperlihatkan sesungguhnya dia shallallahu ‘alaihi wa sallam menggerakkan jari telunjuk dia ketika berdoa saja bukan dari awal tasyahhud, dan gerakan yang dimaksud di sini ialah gerakan yang ringan.
Berkata Syeikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu:
السنة للمصلي حال التشهد أن يقبض أصابعه كلها أعني أصابع اليمنى ويشير بالسبابة ويحركها عند الدعاء تحريكا خفيفا إشارة للتوحيد وإن شاء قبض الخنصر والبنصر وحلق الإبهام مع الوسطى وأشار بالسبابة كلتا الصفتين صحتا عن النبي صلى الله عليه وسلم
“Yang sesuai dengan sunnah bagi orang yang shalat ketika tasyahhud ialah menggenggam semua jari kanannya dan memberi aba-aba dengan jari telunjuknya dan menggerakkannya ketika berdoa dengan gerakan yang ringan sebagai aba-aba kepada tauhid, dan kalau dia mau maka sanggup menggenggamkan jari kecil dan jari bagus kemudian menciptakan bulat antara jempol dengan jari tengah, dan memberi aba-aba dengan jari telunjuk, kedua cara ini telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Maj’mu Fatawa Syeikh Bin Baz 11/185)
Berkata Syeikh Abdul Muhsin Al-Abbad:
لا أعلم شيئاً يدل على أن الإنسان يحركها باستمرار، وإنما يحركها ويدعو بها، أي: عندما يأتي الدعاء: اللهم.. اللهم.. يحركها.
“Saya tidak tahu dalil yang memperlihatkan bahwa seseorang menggerakkan jari telunjuk secara terus menerus, akan tetapi menggerakannya dan berdoa dengannya, yaitu: ketika melewati doa (Allahumma…Allahumma) menggerakkannya”
(Jawaban dari pertanyaan yang diajukan kepada dia ketika mensyarh Sunan Abi Dawud, sehabis Bab fil Hadab dari Kitab Al-Libas)
Adapun aba-aba dengan jari dan mengangkatnya serta mengarahkannya ke arah qiblat, maka pendapat yang besar lengan berkuasa ini dilakukan dari awal tasyahhud sebab dhahir hadist-hadist memperlihatkan demikian.
Diantara hadist yang memperlihatkan disyari’atkannya aba-aba dari awal tasyahhud ialah hadist Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu ‘anhuma:
… وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُسْرَى عَلَى رُكْبَتِهِ الْيُسْرَى وَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ
“Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan kiri di atas lutut kiri dan ajun di atas paha kanan, dan memberi aba-aba dengan jari telunjuknya.” (HR. Muslim)

Dari Nafi’ dia berkata:
كَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ إِذَا جَلَسَ فِى الصَّلاَةِ وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى رُكْبَتَيْهِ وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ وَأَتْبَعَهَا بَصَرَهُ ثُمَّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لَهِىَ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنَ الْحَدِيدِ ». يَعْنِى السَّبَّابَةَ
“Abdullah bin ‘Umar apabila duduk di dalam shalat meletakkan kedua tangannya di atas kedua lututnya dan memberi aba-aba dengan jarinya, dan menimbulkan pandangannya mengikuti jari tersebut, kemudian dia berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Ini lebih keras bagi syetan dari pada besi, yaitu jari telunjuk.'” (HR. Ahmad, dan dihasankan Syeikh Al-Albany)
Dan dalam hadist yang lain:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ رَأَى رَجُلًا يُحَرِّكُ الْحَصَى بِيَدِهِ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ لَا تُحَرِّكْ الْحَصَى وَأَنْتَ فِي الصَّلَاةِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ الشَّيْطَانِ وَلَكِنْ اصْنَعْ كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ قَالَ وَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ قَالَ فَوَضَعَ يَدَهُ الْيُمْنَى عَلَى فَخِذِهِ الْيُمْنَى وَأَشَارَ بِأُصْبُعِهِ الَّتِي تَلِي الْإِبْهَامَ فِي الْقِبْلَةِ وَرَمَى بِبَصَرِهِ إِلَيْهَا أَوْ نَحْوِهَا ثُمَّ قَالَ هَكَذَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ
Dari Abdullah bin Umar sesungguhnya dia melihat seorang pria menggerakan batu ketika shalat, ketika dia selesai shalat maka Abdullah berkata: Jangan engkau menggerakkan batu sedangakan engkau shalat, sebab itu dari syetan. Akan tetapi lakukan sebagaimana yang telah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan. Maka dia meletakkan tangan kanannya di atas pahanya dan mengisyaratkan dengan jari di samping jempol (yaitu jari telunjuk) ke arah qiblat, kemudian memandangnya, seraya berkata: Demikianlah saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan. (HR. An-Nasa’i dan dishahihkan Syeikh Al-Albany)
Berkata Al-Mubarakfury:
ظَاهِرُ الْأَحَادِيثِ يَدُلُّ عَلَى الْإِشَارَةِ مِنْ اِبْتِدَاءِ الْجُلُوسِ
“Dhahir hadist-hadist memperlihatkan bahwa aba-aba dilakukan sejak awal duduk” (Tuhfatul Ahwadzy 2/185, Darul Fikr).
Wallahu a’lam.
Ustadz Abdullah Roy, Lc.
=====

Rekap Tanya Jawab Syar’iah Tjs (72)
© Rumah Dakwah Indonesia
01. Saat sholat..mengacungkan jari telunjuk ketika tasyahud itu dilakukan ketika bacaan asyhaduala atau ketika duduk lansung mengacungkan jari?
dan ketika mau sujud, yg didahulukan untuk diletakkan kepingan lutut atau tangan ?
Jawab
Menggerakan jari ketika tasyahud terdapat perbedaan ulama
Dari Abdullah bin Umar ra berkata, “Rasulullah SAW bila duduk dalam shalat meletakkan kedua tangannya pada lututnya, mengangkat jari kanannya (telunjuk) dan berdoa”. (HR Muslim)
Dengan adanya kedua dalil ini, para ulama sepakat bahwa menggerakkan jari di dalam shalat ketika tasyahhud ialah sunnah. Tetapi cara menggerakan jarinya berbeda-beda, silakan dipilih mana yg paling diyakini :
– Kalangan mazhab As-Syafi’i menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan menggerakan hanyalah sekali saja, yaitu pada kata ‘illallah’. Setelah gerakan sekali itu, jari itu tetap dijulurkan dan tidak dilipat lagi. Demikian hingga usai shalat.
– Kalangan mazhab Al-Hanafiyah yang menyampaikan bahwa gerakan menjulurkan jari itu dilakukan ketika mengucapkan kalimat nafi (Laa illaha), begitu masuk ke kalimat isbat (illallaah) maka jari itu dilipat kembali. Kaprikornus menjulurkan jari ialah aba-aba dari nafi dan melipatnya kembali ialah aba-aba kalimat itsbat.
– Kalangan mazhab Al-Imam Ahmad bin Hanbal menggerakan jari setiap menyebut nama Allah
– Pendapat lain menyebutkan tidak ada ketentuan, sehingga bebas menggerakan tangan, pendapat ini diikuti oleh Syeikh Al Bani
Dalam hal lutut dulu atau tangan dulu yang turun ketika sujud dan berdiri dari sujud juga terdapat perbedaan pendapat ulama.
Jumhur ulama dari madzhab Hanafiyyah, Syafi’iyyah, Hanbaliyyah dan beberapa ulama salaf; menyerupai an-Nakha’i, Sufyan at-Tsauri, Ishaq, Muslim bin Yasar, Ibnu al-Mundzir bahwa yang sunnah didahulukan dalam sujud ialah lutut dan mengakhirkan tangan, sedangkan ketika berdiri dari sujud itu dengan mendahulukan tangan terlebih dahulu.
Pendapat Malikiyyah dan satu riwayat dari Imam Ahmad bahwa mereka lebih menentukan mendahulukan tangan terlebih dahulu.
Silakan dipilih pendapat yg diyakini dan mari saling menghormati
©Ustadz Herman Budianto
02. Assalamualaikum… ana numpang tanya nih! alasannya apa ya… para jamaah kalau shalat jari telunjuk harus digoyang”in… mohon klarifikasi bagi yang tahu…wassalamu alaikuum..
Jawab
Waalaikumsalam
Ketika mengucapkan syahadatain ketika tahiyyat dan tasyahud maka sunnah menggerakkan telunjuk sebagai penguat kesaksian verbal tidak ilahi selain Allah.. kesaksian tsb diperkuat dgn jari telunjuk yg mengisyaratkan minggu atau esanya Allah..
©Ustad Muslim
Tambahan
Alasan aturan mengangkat jari telunjuk kanan ketika mengucapkan tasyahud awal dan tasyahud final menurut hadith iaitu:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم:اذا جلس فى التشهد وضع يده اليمنى على فخذه اليمنى ويده اليسرى على فخذه اليسرى واشار بالسبابة ولم يجاوز بصره اشارته.رواه احمدومسلم والنسائى.
Rasulullah saw apabila baginda duduk dalam tasyahud, di letakkannya tangan yang kanan di atas paha yang kanan dan tangan yang kiri di atas paha yang kiri dan baginda berisyarat dengan telunjuk dan tidaklah pandangan itu melampui syaratnya.(Hadith riwayat Ahmad, Muslim dan al-Nasai).
Disebut dalam kitab Hasyiah hal:55 iaitu:
فاءنه يسن ان يشير بها عند قوله اﻻالله ولتكن منحنيدة متوجهة للقبلة وذالك في تشهد به.
Maka sesungguhnya di sunnahkan berisyarat dengan telunjuk (tangan kanan) seketika mengucapkan illallaah dan hendaklah telunjuk itu membungkuk, menghadap qiblatnya.Yang demikian itu pada kedua-dua tasyahudnya.
Hikmahnya dan diam-diam mengangkat telunjuk itu ialah sebagaimana disebutkan dalam kitab zubad syeikh Ibnu Ruslan.
وعند الله اﻻالله فالمهلله ارفع لتوحيد الله الذى صلييت لله.
Dan ketika mengucapkan tasyahud, maka telunjuknya angkat olehmu kerana mengesakan Allah SWT yang kau lakukan sholat itu keranaNya.
©Ustad Irwansyah
03. Afwan..mau tanya..sampai kapan batas waktunya kita membaca Al-Matsuroh pagi..begitupun utk yg Al-Matsuroh sore..? Jazakallahu khair ustadz/ah.
Jawab
Wa’alaikumussalam. Batas membaca al ma’tsurat sebenarnya tidak asa batas yg kaku sebab al ma’tsurat ialah kumpulan dzikir dari hadits2 yg kebanyakan klarifikasi dzikir dibaca pada pagi dan petang. Sehingga kalau dibaca dengan sempurna waktu maka akan menjadi utama, tetapi kalau ada kondisi khusus tdk sanggup membaca sempurna waktu maka silakan dibaca walau sudah lewat pagi atau sudah lewat petang
©Ustadz Herman

Sumber - rumahdakwah.id
Sumber http://www.referensidunia.blogspot.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Isyarat Jari Telunjuk Dikala Tasyahud"

Posting Komentar