Loading...

Sebuah Dongeng Duka Perihal Ketulusan Seorang Ibu

 
Semoga kita bisa mengambil manfaat dan Itibar dari cerita dibawah ini...

Ibu : Nak, kau yakin mau pergi?
Dewi : Yakin banget. Udah males dirumah! banyak hukum !
Ibu : Maafin ibu kalo gitu,
Dewi : Udah terlanjur. Aku udah bilang ke teman² dan mereka udah dapet daerah buat aku.
Ibu : Ibu ngelakuin ini untuk kamu, Agar kelak kau bisa sukses.
Dewi : Aku udah pintar, Aku udah sarjana jadi ibu gak usah ngajarin-ngajarin aku.
Ibu : Yaudah kalo gitu. Jaga diri kau baik² ya. Maafin ibu.

Menetes air matanya mendengar anak yang dilahirkan sudah cendekia bicara, Karna ibunya ingat ia yang mengajari berbicara ketika kecil dulu.

Akhirnya dewi pergi dari rumah cuma karna kekesalan terhadap ibunya yang selalu marah² dan mengatur hidupnya.
Dewi : Pak, saya pergi dulu ya. Aku akan baik² aja kok. bapak gak perlu khawatir.
Bapak : Berat rasanya melepasmu nak, kau gres saja wisuda. pribadi meninggalkan rumah menyerupai ini.
Dewi : Bapak damai aja dewi akan balik lagi kok sehabis sukses nanti. Dewi mau ngejar cita-cita dewi tapi gak disini.

Keputusan yang sudah lingkaran itu menciptakan dewi tetap pergi dan bekerja di luar kota. Memang ibunya sangat ketat mengawasi pergaulan dewi, banyak larangan yang ibunya tidak perbolehkan tapi itu semua demi kebaikan anaknya.

Dan dewi merasa nyaman dengan daerah barunya. Diapun berhasil masuk disalah satu perusahaan besar dan menemukan sosok Pria yang ia idamkan.

Beberapa tahun kemudian dewi mengajak pacarnya untuk kerumah orangtuanya.

Sesampai disana ia bertemu dengan bapaknya
Dewi : Pak, saya pulang " bapaknya yang sudah renta dan berkeriput tersenyum bahagia"
Bapak : Anak bapak sudah sukses "sambil membelai rambutnya"
Dewi : Ibu kemana pak? tanya dewi karna tak terlihat didalam rumah yang sederhana itu.
Bapak : Ada. kau mau ketemu sekarang?
Dewi : Iyaa pak. Memang dimana?
Bapak : Ayo Ikut bapak..
(Dengan wajah gundah dewi mengikuti langkah demi langkah yang tak jauh dari Rumahnya. Dan ternyata datang di pintu Pemakaman).
Dewi : STOP PAK ! MAKSUDNYA APA?JANGAN BILANG IBU......
Bapak : sang bpk "tersenyum diwajahnya walau nampak berkaca-kaca dimatanya".

Melihat kerikil nisan yang tertulis nama ibunya, Dewi pun menangis tak terbendung layaknya anak kecil.
Bapak : Nak, selama ini ibu mu mengalami penyakit jantung. tapi ibumu gak mau jikalau kau tau. Makanya ibu mu sedikit keras mendidik kau karna ibu mu tidak tau hingga kapan bisa menasehatimu.

Ibu mu pengen kau sukses dan tidak jatuh kepergaulan bebas, tapi kau malah meninggalkannya.tapi bapak yakin niscaya kini ibu mu tersenyum disana melihat kau menyerupai sekarang.

Dewi tidak bisa berkata-kata, ia hanya menangis dengan penuh penyesalan.
Bapak : Ini ada surat dari ibu yang dititip sebelum meninggal. Dibacalah surat tersebut disamping tanah yang sudah menutupi orang yang telah melahirkannya ke bumi ini.

Ibunya menulis:" Nak, maafkan ibu, yang selalu menciptakan telingamu berisik karna ibu selalu menasehatimu, maafkan ibu yang selalu melarang kau pakai pakaian yang seksi, maafkan ibu yang selalu menelfonmu ketika kau dengan teman-temanmu, maafkan ibu yang selalu menyuruhmu makan walau kau sudah besar, maaf jikalau kuliner ibu tidak seenak restoran yang suka kau hampiri. Maaf akhir-akhir ini menciptakan kau membenci ibu, ibu tidak ingin kau mencicipi kehilangan arah biar tetap melanjutkan masa depan kamu.

Ibu tau kau kini sudah bahagia, sudah mencapai cita-cita kamu. Semoga kau mendapat suami yang bisa menjaga kau melebihi ibu menjaga kau ya nak, ibu senang telah melahirkan kamu...

Ya Allah... Ampunilah dosaku, dosa ibu bapakku, sayangilah mereka sebagaimana mereka mengasihi hamba swaktu kecil."Aamiin"




Sumber https://www.armadaberkah.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sebuah Dongeng Duka Perihal Ketulusan Seorang Ibu"

Posting Komentar