Loading...

Jangan Lupa Bahagia


Hal tidak mungkin yang ada di dunia ini yakni selamat dari omongan manusia, begitu pesan yang tersirat Imam Syafi’i. Beliau melanjutkan, Allah yang Esa saja dikatai tiga, Rasul mulia dihina sang penyihir dan gila, kemudian apalah kita orang biasa yang berlumur dosa.

Seringkali, hidup kita habis memikirkan para pembenci hingga karenanya kita lupa berkarya dan celakanya kitapun jadi lupa bahagia.

Padahal omongan dan hinaan insan itu hakikatnya yakni tidak seberapa, mereka tidak tau saja bahwa malu kita jauh lebih jelek dibanding apa yang mereka hinakan, namun Allah masih baik menutupi malu dan dosa kita yang menggunung tinggi.

Jika saja, segala malu dan dosa tak Allah tutupi, kemudian Allah berikan sebuah titik hitam setiap kali kita berbuat maksiat, pasti badan kita akan hitam legam, penuh dengan titik hitam dosa dan pasti insan akan lari dan menjauh dari kita.

Imam Hasan Bashri menasihati, omongan dan hinaan orang sebenarnya yakni cara Allah menunjukkan kita kebaikan, menunjukkan kita pahala tanpa harus lelah berinfak sholih, kemudian melebur dosa-dosa kita tanpa harus lelah berusaha.

Perlu diketahui, pembenci akan terus berbicara di belakang kita, semua hal wacana kita. Perbuatan baik kita akan mereka nilai salah, apalagi khilaf kita. Makara santai saja menghadapinya. Dan selalu ingat, orang yang hanya berani di belakang kita, sejatinya memang mereka akan terus tertinggal di belakang, tatkala kita sudah melesat kedepan.

Satu hal lagi, pembenci itu hanya kumpulan orang-orang yang iri dan sakit hati, alasannya hidupnya miskin prestasi dan pasti tidak lebih baik dari kita.

Jadi, anggaplah omongan dan hinaan para pembenci itu bagaikan bongkahan-bongkahan kerikil besar. Engkau akan lelah bila bongkahan-bongkahan itu kamu letakkan di atas pundakmu. Sebab usang kelamaan pundakmu akan ambruk. Sebaliknya engkau akan beruntung, dikala kamu tumpuk bongkahan-bongkahan itu di bawah telapak kakimu. Karena engkau akan semakin tinggi berpijak di atasnya.

Seperti pernah aku sampaikan sebelumnya, omongan dan hinaan para pembenci itu bagaikan Amplas. Kita memang terbaret luka tapi pada karenanya kita yang mengkilap dan mereka akan jadi sampah yang tidak berkhasiat lagi.

Saya pribadi, aneka macam menerima omongan, hinaan, cibiran bahkan fitnah dari para pembenci yang kadang menyesakkan dada. Tapi usang kelamaan, alasannya sudah terbiasa...akhirnya terciptalah sebuah rumus yang aku praktikan hingga detik ini :

“Mengelola dan merubah caci maki insan menjadi energi positif berupa motivasi biar kita sanggup berkarya dan berprestasi lebih baik dan lebih baik lagi.”

Terakhir...kita akan sangat merugi kalau gegara ulah para pembenci, kita lupa hidup bahagia. Biarlah mereka saja yang hidupnya penuh kebencian, sedangkan kita hidup dengan penuh cinta dan karya nyata.

Jangan lupa senang ya...

Sumber :
FB : Ustadz Hilmi Firdausi
FP : Kajian Hilmiyah




Sumber https://www.armadaberkah.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Jangan Lupa Bahagia"

Posting Komentar