Loading...

Dikira Senter Milik Sang Ayah, Bocah Ini Lari Terbirit-Birit Ketika Mendengar Tangisan Di Lokasi Kecelakaan

Loading...
Tafsimix - Cerpen Fiksi Horor. Sore itu, warga kampungku dihebohkan dengan kejadian kecelakaan yang terjadi di jalan raya tak jauh dari rumahku. Jalan tersebut yakni sebuah tikungan tajam yang entah sudah berapa kali menelan korban jiwa. Saat saya tiba di sana, sudah tergeletak bersimpah darah dua laki-laki yang terlempar dari sepeda motor yang mereka naiki.

Salah satu korban sudah meninggal di kawasan sementara satunya lagi masih terlihat bernafas namun sudah sekarat. Tidak ada warga yang berani mengambil tindakan sehingga keduanya gres ditangani sesudah polisi datang. Setelah dibawa ke rumah sakit, korban yang sekarat pun jadinya meninggal dunia.

Beberapa orang yang menjadi saksi kecelakaan tabrak lari tersebut sempat mencoba mengejar truk yang melanggar korban namun tidak berhasil. Karena kejadian tersebut, lagi-lagi lingkungan di sekitar lokasi kejadian menjadi sangat mencekam.

Jalan tikungan tersebut memang sudah sering menjadi langganan kecelakaan. Sudah banyak yang meninggal di sana dan kebanyakan korban meninggal di tempat. Karena sering menelan korban jiwa, tikungan itu pun jadi populer angker.

Beberapa warga sekitar mengaku pernah melihat penampakan di lokasi tersebut ketika melintas seorang diri di malam hari. Ada yang sekedar mendengar rintihan minta tolong, mendengar bunyi kecelakaan, mencium basi bau darah, sampai melihat sosok hantu yang diyakini yakni korban kecelakaan di lokasi itu.

 warga kampungku dihebohkan dengan kejadian kecelakaan yang terjadi di jalan raya tak jau Dikira Senter Milik sang Ayah, Bocah ini Lari Terbirit-birit Saat Mendengar Tangisan di Lokasi Kecelakaan

Mendengar dongeng menyerupai itu dari beberapa orang tentu menciptakan kami bawah umur menjadi ketakutan. Apalagi kami harus melalui jalan itu setiap malam sepulang mengaji. Bayangan mengenai korban kecelakaan yang gres saja terjadi terus menghantui fikiran sehingga menciptakan kami takut.

Karena terlalu penakut, sore itu saya membujuk orangtuaku semoga saya diizinkan libur mengaji namun Ibu bersikeras semoga saya tetap mengaji. Menjelang magrib, saya bersama dua temanku pun berjalan melintasi sebuah tanjakan yan berada di erat lokasi tabrakan. Tanjakan ini merupakan jalan alternatif yang sudah biasa kami lewati alasannya jalan raya yang menikung terkesan ancaman bagi kami.

Tak menyerupai biasa, kami bertiga terlihat begitu tegang. Tidak ada perbincangan yang berlangsung namun kami setuju untuk berjalan dengan gerakan cepat sampai nyaris berlari. Saat mengaji, saya sangat tidak fokus lantaran terus kefikiran mengenai dongeng hantu di tikungan itu.

Setelah salat Isya, kami pun segera meninggalkan masjid untuk kembali ke rumah masing-masing. Malam itu langit sangat gelap sehingga suasananya menjadi sangat mencekam. Sepanjang perjalanan, kami harus melewati beberapa lokasi yang sepi lantaran tidak ada rumah dan hanya ada pepohonan sawit.

Dengan hanya berbekal senter kecil, saya dan temanku berjalan saling berdempetan. Saking dempetnya saya dapat mencicipi kaki kami saling bersenggolan. Tak terasa kami jadinya tiba di jalan pintas (turunan) yang akan menghubungkan kami pribadi ke tikungan lokasi tabrakan.

Awalnya saya tersenyum lebar ketika melihat cahaya senter bergerak dari arah berlawanan menuju arah kami. Aku bahagia lantaran saya berfikir itu yakni Ayahku. Aku berfikir demikian alasannya Ibu memang bilang bahwa Ayah akan menjemput kami jadi kami tidak perlu takut.

Karena terlalu bersemangat saya mengajak kedua temanku untuk berjalan lebih cepat. Tentu saja mereka juga bahagia ketika saya bilang cahaya senter itu yakni senter Ayahku yang menyusul kami. Sama menyerupai kami yang bergerak mendekat, cahaya senter itu juga bergerak semakin erat dengan kami.

Akan tetapi, ketika saya fikir kami sudah benar-benar erat dengan Ayahku, cahaya senter itu malah hilang. Sontak saya dan temanku menjadi panik. Kepanikan kami pun semakin menjadi ketika senter yang kupegang juga tiba-tiba mati.

Karena merasa sudah erat dengan Ayahku, saya mencoba berteriak memanggilnya sambil terus berjalan bergandengan tangan dengan kedua temanku. Aku memanggilnya beberapa kali tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Hal itu menciptakan jantungku berdegup begitu kencang seolah berpacu dengan degup jantung kedua temanku.

Sambil terus berjalan di tengah kegelapan, dengan bunyi gemetar saya mencoba memanggil ayahku sekali lagi. Namun bukan sahutan Ayahku yang kami dengar melainkan jeritan lirih yang entah darimana asalnya yang sontak menciptakan kami bertiga berlari terbirit-birit. Kami yang tadinya bergandengan bahkan tetapkan berlari sendiri-sendiri semoga lebih cepat.
Sumber http://kitatafsi.blogspot.com

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Dikira Senter Milik Sang Ayah, Bocah Ini Lari Terbirit-Birit Ketika Mendengar Tangisan Di Lokasi Kecelakaan"

Posting Komentar