loading...

Kerap Mendengar Bunyi Asing Dari Atas Genteng, Bocah Ini Malah Teriak Histeris Saat Orangtuanya Muncul

Loading...
Tafsimix - Cerpen Fiksi Horor. Setelah menuntaskan urusan di sekolahku yang lama, saya dan keluargaku hasilnya pindah ke luar kota dan tinggal di sebuah kompleks sederhana. Di sepanjang jalan yang menghubungkan setiap rumah di kompleks tersebut terdapat beberapa pohon mahoni berukuran besar yang daunnya sangat rimbun.

Seram dan menakutkan, itulah kesan pertama yang saya rasakan begitu kami tiba di rumah baru. Rumah itu merupakan rumah bergaya arsitektur Belanda dengan jendela berukuran besar. Ada tiga kamar tidur di rumah tersebut dan saya sebagai anak pria kebagian kamar paling belakang.

Awalnya semua baik-baik saja dan saya tidak punya problem khusus dengan kamar baruku alasannya ialah saya memang tipe orang yang cukup gampang beradaptasi. Namun kecacatan demi kecacatan terus saja saya alami beberapa hari setelahnya.

Keanehan pertama yang membuatku merasa terganggu ialah bunyi sapuan dedaunan di atas atap rumah di kala malam hari. Suaranya usang kelamaan terdengar menyerupai ada orang yang sedang menyapu di atas genteng. Padahal tidak ada pepohonan di sekitar rumah yang memungkinkan timbulnya bunyi tersebut.

 Setelah menuntaskan urusan di sekolahku yang usang Kerap Mendengar Suara Aneh dari Atas Genteng, Bocah ini Malah Teriak Histeris Ketika Orangtuanya Muncul

Karena tidak nyaman, saya mendatangi Ayah yang sedang mengerjakan pekerjaan kantornya untuk melaporkan kecacatan tersebut. Baiknya Ayah, meski sibuk Ia oke untuk membawa pekerjaannya ke kamarku supaya Ia bisa mendengar sendiri bunyi asing yang kuceritakan.

Anehnya, sudah berjam-jam ayah di kamarku namun bunyi sapuan dedaunan di atas genting tidak terdengar sama sekali. Padahal sebelum saya memanggil ayah bunyi itu begitu jelas. Akhirnya Ayah pamit untuk tidur dan memintaku untuk tidak terlalu khawatir.

Meski heran, saya pun oke untuk segera istirahat sesuai perintah Ayah. Tapi gres saja saya mencoba memejamkan mata, lagi-lagi bunyi dari atas genting kembali terdengar. Kali ini suaranya bahkan terdengar lebih terang dari sebelumnya. Untuk sesaat saya mencoba mengamati sekeliling kamar dan tersadar bahwa gorden jendela belum saya tutup.

Meski takut dan merinding, saya memberanikan diri bangun dari daerah tidur untuk menutup gorden tersebut. Namun lagi-lagi saya disuguhkan dengan kecacatan yang menciptakan bulu kudukku merinding. Dari balik jendela, saya melihat sesosok perempuan bergaun putih melintas tak jauh dari kamar. Aku segera menarik pandanganku ketika sosok itu tampaknya membalikkan badan mengarah padaku.

Dengan segera saya menutup gorden dan kembali ke atas daerah tidur. Tanpa fikir panjang saya segera menelepon Ayah untuk memintanya datang. Awalnya saya kahwatir jika ayah sudah tidur alasannya ialah ia tidak mengangkat teleponku. Tapi tak berapa usang sehabis itu, Ayah dan Ibu ternyata tiba berdua ke kamarku.

Ayah dan Ibu terlihat kompak mengenakan baju tidur berwarna putih senada. Tanpa basa-basi lagi saya eksklusif menceritakan apa yang kulihat kepada Ayah dan Ibu. Ayah terlihat serius menyimak sementara Ibu justru terlihat senyum-senyum seolah menertawakanku. Ibu bahkan menatapku dengan tatapan yang sulit saya artikan. Tapi yang niscaya tatapan itu membuatku tidak nyaman.

Sadar dengan ketidaknyamananku, Ayah lantas mencoba menenangkan dan menyampaikan bahwa orang itu kemungkinan ialah tetangga sebelah yang lewat. Aku mencoba membantah dan menyampaikan perempuan yang kulihat tadi terlihat menyerupai hantu. Tentu saja saya juga menanyakan untuk apa perempuan itu berjalan di halaman rumah kami.

Ayah dan Ibu lantas tersenyum. Kini giliran Ibu yang bicara. Anehnya, Ibu malah mengarang dongeng lain yang berbeda dengan versi Ayah. Ibu malah bilang perempuan itu kemungkinan ialah orang gila yang memang sering berkeliaran di rumah orang. Meski berbeda, kali ini saya lebih suka balasan versi Ibu alasannya ialah lebih masuk akal.

Merasa saya sudah mulai tenang, ayah dan Ibu kemudian pamit untuk kembali beristirahat. Aku pun mengiyakan dan meminta mereka untuk menutup pintu kamarku. Tapi, begitu pintu di tutup dan saya menarik selimut, handphoneku pun berdering.

Kugapai handphoneku dan kulihat nomor Ayah dilayar. Untuk sesaat saya merasa heran mengapa Ayah meneleponku lagi padahal ia gres saja keluar dari kamar. Meski begitu, segera kuangkat telepon tersebut dan kudengar bunyi Ayah.

"Ada apa bang? Kok kakak telepon Ayah barusan? Masih belum bisa tidur juga? Perlu Ayah ke sana?"

Sontak pertanyaan Ayah menciptakan jantungku berdegup kencang. Untuk sesaat saya tidak bisa berfikir jernih. Satu-satunya yang terlintas di benakku ketika itu hanyalah menjerit histeris dan tak usang sehabis itu, Ayah, Ibu, dan kakak pun tiba di kamarku dengan verbal cemas.
Sumber http://kitatafsi.blogspot.com
Loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kerap Mendengar Bunyi Asing Dari Atas Genteng, Bocah Ini Malah Teriak Histeris Saat Orangtuanya Muncul"

Posting Komentar