Kakek Pembuat Gula

ketika angin. erhembus meniup ubun ubun di kening ku

ku lihat seorang yang tak pernah berhenti berjalan

tak pernah lelah untuk mencari nafkah

saat yang lain masih terlelap tidur
dia sudah bergegas pergi sangat pagi

di dalam lubuk hati mungkin memang tak ingin lakukan hal itu

tapi apalah daya tuntutan ekonomi yang selalu memaksa hal itu

tak perduli hujan badai petir panas dan gugur yang menghampiri

tak perduli aral rintang halangan
selalu di hadapi

beban di pikul ringan di jinjing sesuatu yang di dapatkan

dari setiap tetesan keringat nya
yang selalu basahi tubuh nya

dia lah seorang kakek pembuat gula merah.


sepertinya ini tidak seperti puisi yaah :) tapi yaah semoga saja ada hl yang bisa di petik dari tulisan ini
karna ini. adalah tulisan tentang perjuangan seorang kakek yang berjuang mencari nafkah dari subuh sampai bedug magrib tapi dia. tak pernah lupakan shalat dan selalu tepat waktu bahkan saat dia sedang benar-benar sibuk dia tak pernah tinggalkan shalat lima waktu

bagai mana dengan kita yang mungkin tak se sibuk dia.
apakah masih bisa menyempatkan waktu untuk mengingat allah?

semoga setelah adanya tulisan ini aku kamu dan kaalian yang baca tulisan ini jadi lebih bisa memperbaiki diri jadi lebih baik lagi aamiin

Advertisement

Subscribe to receive free email updates: